Gadis pengagum Hujan

Tiba-tiba hujan turun. Benar-mungkin, mendung tak berarti hujan. Tapi ada kalanya hujan datang tanpa permisi. Lalu memerangkap diri dalam hangatnya nostalgia masa lampau. Ada saja yang merindu ... dengan alasan apapun; termasuk yang sulit diterima akal.
Dia, seorang yang tampak kurang sehat. Terlebih wajah pasinya, padam-sudah binar matanya, ya, pandangan itu tak bisa tutupi. Rindu itu masih di sana, dan atas nama yang sama; rasa penasarannya.
"Gadis! Ayo masuk! Nanti kamu sakit!" Hanya Nadia yang nampak benar-benar peduli. "Bukankah kamu alergi dingin?" Nadia masih bersikeras. "Di luar dingin, Gadis! Hujan juga," lanjutnya.
"Ambilkan aku sweter, itu justru lebih menghangatkanku, Nad." Wajahnya masih kaku. Usianya baru saja genap 20 tahun. Dengan gaya rambut dikuncir seperti kuda, berikat karet-gelang abu-abu. Entah apa yang ada di pikirannya, teman asrama yang lain mengunci diri di kamarnya masing-masing, sedangkan Gadis, duduk menyendiri, tanpa tungku pembakaran yang menjaga dirinya tetap hangat.
"Aneh ... ngapa milih menyendiri, Dis? Biasanya, ba'da Isya, kamu sudah tidur." Nadia meberikan sweter rajut dengan warna biru dan juga segelas cokelat panas.
"De javu ...."
Nadia heran. "Kamu percaya dengan hal begituan, Dis?"
"Yap. Bahkan aku tahu, selanjutnya kamu akan berkata 'aneh!'" Gadis menghirup aroma coklat-panas di antara malam dan hujan.
Nadia memandang lekat-lekat sahabatnya. Merasa tak nyaman jika ternyata Gadis benar-benar bisa membaca pikiran hanya karena de javu. Itu pasti tidak sengaja, gumamnya. Dan, Gadis tersenyum untuk pertama kalinya malam itu, seakan membenarkan firasat temannya; membaca pikiran.
"Hujan malam hari ... apa yang sebenarnya membuat air laut menguap, Nad?"
"Panas sinar matahari. Itu pelajaran sekolah dasar, Dis."
"Tidak-tidak. Maksudku, matahari tidak menemani malam."
"Mungkin saja awan pembawa air itu berasal dari belahan bumi yang tersinari matahari."
"Mungkin juga, karena pecahan bintang yang berjarak miliaran tahun cahaya. Bintang masa-lalu itu terkikis sejak di ruang hampa, dan, terbakar saat menyentuh atmosfer. Lalu, yap, menjadi hujan." Nadia mendengarkan dengan antusias.
"Tapi, ini hujan-air, Gadis ...." Nadia merasa belum mengantuk, tapi sahabatnya seakan membacakan cerita pengantar tidur lebih awal.
"Meteor membawa air."
"Tapi ... air laut yang menguap, lebih masuk akal menjelaskan tentang hujan, Dis."
Gadis minum cokelat yang panasnya menguap, membentuk sebaris butir embun di atas bibirnya. "Nah itu," jelas Nadia, terlihat gembira. "Uap air yang mengembun di area kumis, Gadis. Kamu punya kumis sekarang."
Mereka berdua tertawa, hangat. Sehangat cokelat panas yang sempat hangat. Juga sweter rajut abu-abunya yang terasa menghangat.
"Ada hujan yang tidak masuk akal, Sayang." Gadis meletakkan gelasnya. "Hujan di tengah panas terik, contohnya. Atau ... yap, saat malam gini, sementara sore tadi tidak ada awan gelap, dan hujan. Kita tidak ada kesempatan untuk melihat teori hujan dari para ahli sains."
----bersambung----
*tunggu kelanjutannya.

You may like these posts