Mari Bercinta
Bercinta aku semalaman
Paginya tak kukenali
Seisi rumah menangis
Bercerita Atid
Setelahnya aku menangis
"Izrail hanya laksanakan perintah," serunya
terdengar pilu di telingaku yang tertawa,
"sesalmu tiada guna."
Munkar dan Nakir penuhi undangan pesta minum teh di liangku
Tak lama Izrail bergabung bersama kami,
"Kau lebih beruntung, Pendosa."
Semua terkikik, kecuali aku,
"Mengapa Tuan bicara seperti itu?"
"Mau 'mengulangnya' setiap kali?"
"Sampaikan pada Tuhan, Tuan. Dia
tak beriku kesempatan."
"Hatimu mati." Izrail berlalu.
