Jadi Malaikat


Pagi tadi aku berkunjung ke kediaman teman. Rumahnya tepat di samping sebuah stasiun. Stasiun Televisi, namanya. Ia baru saja melahirkan. Tentu aku turut bahagia, lebih lagi melihat malaikat kecil yang cantik tengah tertidur itu.

Ya Tuhan, sungguh malaikat wajahnya, racauku.

"Memang aku bercita-cita kelak ia akan menjadi malaikat," jelas temanku menetapkan cita-cita putri kecilnya. Kupikir cita-cita bukan ditentukan oleh orang tua. Tapi temanku tetap kukuh bahwa ia haruslah menentukan masa depan anaknya. Persetan, kataku.

Tak lama ia cium bayi itu. Mula-mula kening. Lalu pipinya, dan bibir.

"Lipstikmu meleleh," kataku penuh heran melihat ia giat melumat bibir malaikat kecil itu.
Aku tak mengerti ia jawab apa. Bahasanya tidak keruan. Sampai akhirnya ia menoleh ke arahku. Dan kudapati itu darah di mulutnya, penuh. Astaga! Mulut mungil si bayi dimakannya.

"Bukan," katanya, "bukan lipstick. Aku harus makan mulut malaikat kecilku ini. Tentu agar kelak menjadi malaikat besar. Karena kalau mulutnya tetap ada, khawatir aku, ia akan lebih memilih jadi iblis seiring seringnya berbagi fitnah di Stasiun Televisi."

Terserah kamu, gila, kataku sembari siaran televisi.

You may like these posts