Dermaga Senja : Memori Hujan


Sore ini hujan turun lebih cepat dari sore-sore sebelumnya. Memperangkapku di gubuk singgah di ujung dermaga. Menutup senja yang bahkan belum dimulai. Sial... entahlah apa rencana Tuhan di sore yang kuharap indah ini. Bahkan aku tidak bisa menikmati tenggelamnya matahari di temani secangkir kopi hitam yang tak lagi hangat.

“Andani....!!!” Pekik panjang dari tepian pantai disisi kananku.

“Hemmm...” Jawabku panjang dengan suara tinggi seperti biasanya kulakukan, tentu aku selalu mengakhiri ucapku dengan senyum manis.

Benar saja, aku sudah hafal dengan suara itu. Suara pria yang sama dengan pria yang hampir di setiap hariku menggangguku. Mungkin mengharap sedikit kesempatan untuk menyentuh hatiku. Biarlah, tapi aku lebih menikmati waktuku jika ada dirinya. Berlari ia mendekat, menyambangiku di gubuk ini. Berteduh dari hujan, mungkin. Atau ingin menggodaku seperti biasanya. Dasar pria aneh.

“Apa-apaan kamu Andani? Menunggu senja ditengah guyuran hujan? Hahahaha :v” Goda pria itu, Putra.

“Pergi saja jika datang menghampiriku namun kamu tak mampu membuatku tersenyum Put” Jelasku kepadanya.
Wajar aku menjawab demikian. Wanita mana yang mau di goda pada saat harapannya sedang tidak nyata.

“Aku sudah pernah melihat senyummu Dan, dan lebih manis kopi hitam di cangkir yang kamu genggam daripada harus melihat senyummu”

Tidak ada tawa yang biasanya aku dengar, hanya ucapan itu, membosankan sekali.
Tiba-tiba saja hujan semakin deras. Jarak pandangku sudah penuh dengan deras air hujan yang jatuh. Bahkan tepian laut di ujung dunia tak terlihat.

“Dingin sekali Din, kamu sama sekali tidak berniat membagi kopimu dengan aku?” Ucapnya lembut, seperti biasa Putra jika meminta sedikit diperhatikan olehku.

“Kopi ini sudah ding.....”  Belum selesai aku bicara, tapi Putra sudah merampasnya dari genggamanku.

Langsung saja diminum kopi dingin itu. “Maafkan aku Putra, tadi aku belum selesai bicara tapi kamu sudah merebutnya dariku” ucapku dalam hati. Lihat caranya meminum, percis orang yang sedang kehausan di tengah panas terik, padahal ini sedang hujan deras.

“Tega sekali kamu Andani Hahahaha...” Lagi-lagi Putra mencoba menggodaku.

“Apa?” Tanyaku penuh penasaran.

“Kopi ini tak lagi hangat” Jelasnya singkat.

Tapi kali ini ada sedikit yang aneh, senyumnya seolah memaksaku menikmati wajahnya lebih lama. Dia, pria yang selalu merayuku. Pria yang selalu meluangkan waktu untuk mengingatku disetiap kesibukkannya, sahabat Putra sendiri yang membocorkan rahasia ini kepadaku.

“Ya Tuhan...” Aku berusaha mematahkan senyumnya.

“Apa-apaan kamu ini”

“Senyum itu? Kenapa kamu tersenyum?”

“Emmm......”

“Apa yang kamu pikirkan Put? Berharap senyummu menyaingi manisnya senyumku?”

Putra tak lagi membalas pertanyaanku. Dia menyandarkan kedua lengannya di pagar kayu gubuk pinggir dermaga. Memperhatikan satu titik yang tidak aku ketahui, pandangan disini luas. Sangat luas, tapi waktu terasa singkat jika aku bersamanya. Aneh memang, dasar pria aneh. Dia aneh menurutku.

“Kamu tahu cantik?” Tanyanya memecah hening.

“Tidak, sama sekali kamu tidak membocorkan isi kepalamu kepadaku Put. Bagaimana aku tahu?”

“Itu!!!” Sambil tangannya menunjuk satu titik di sana, tepian langit.

“Kenapa dengan itu?”

“Iya itu, tepian langit. Tempat mentari senja menghilang dan muncul dengan matahari baru di belahan bumi lainnya”

“Tapi sore ini senja tidak hadir Put, hujan sederas ini. Mustahil melihat apa yang biasanya aku nikmati dari sini, gubuk diujung dermaga”

“Memang tak lengkap tanpa yang terbiasa. Memang terkadang sesuatu terjadi saat kita tidak menginginkannya, Andani”

“Kali ini aku membiarkan kau benar Put”

Lagi-lagi dia tidak membalas perkataanku, hanya senyum. Memang tak semanis senyumku, namun mampu memaksaku lebih lama untuk menikmati wajahnya.

You may like these posts

2 Comments

  1. Soearaperempoean
    .. diksinya bagus banget... aku suka... tapi kenapa yya kalau cwok buat cerpen mesti bisa keren diksinya. lugas, gak lebay, romantis, n gak bertele-tele... hmmm aku perlu belajar banyak.. heheh.. :)
    • Admin
      Terimakasih mbak icak :)
      Bagusan tulisannya mbak icak :)