Gadis Pesek Dengan Senyum Semanis Kopi Kantin

Gadis Pesek Dengan Senyum Semanis Kopi Kantin

Tidak ada hal yang hanya kebetulan, bahkan berhentinya waktu adalah takdir. Jika pun ada, ya “kebetulan” tidak diciptakan dengan mainmain. Sama halnya dengan pertemuan yang tidak pernah di duga, siapa yang merencanakannya? Atau siapakah yang membuat sebuah pertemuan menjadi bagian kecil dari diri seseorang? 

Mungkin pertemuan bisa menjadi alasan kuat mengapa perpisahan terasa begitu menyakitkan. Begitu menyayat hati, buah dari muntahan lembut kalimat perih, janji. Tiada juga yang dapat menjelaskan mengapa lidah tak bertulang dengan mudah berjanji tuk setia. Tuhan sekalipun mungkin tidak bisa menjelaskan perasaan kehilangan seseorang yang mencintai orang lain.

Ingatan tentang seseorang yang dulu sempat mengisi hatimu, seperti lukisan sederhana yang memaksamu menangis. Menjadikanmu orang lain, atau seperti orang gila yang menutupi pilunya dengan tawa. Membuaimu dengan rasa sakit, beralaskan kesal terhadap orang lain, tapi kau dipaksa hidup di antara waktu. Dan terus menyakitimu dengan bagian darimu sendiri, ingatan.

Diskriminasi kasta rasa atas nama perasaan cinta sangatlah tajam. Dimana kau harus memilih, pilihanmu atau ikuti arus kisah cinta agar tak berhenti di tengah kisah. Tersenyum atau pun menangis, itulah pilihan dalam kisah cinta. Bahagia atau bersedih, ataupun menunggu dan mengakhiri. Semua pilihan itu berakhir pada ketiadaan, menurutku. 

Cinta hadirkan perselisihan dari kesatuan dua insan hingga mereka berseteru, hebat. Cukup itu saja alasanku untuk tak lagi jatuh cinta. Karena kekasih maha suci adalah Tuhan. Tuhan tidak akan meninggalkanmu ketika dirimu setia, tapi Tuhan akan menguji kesetiaanmu. 

Dari setiap perih masa laluku, aku rasa, aku tidak perlu membeberkan segudang kisah cintaku pada buku catatan yang setiap waktu senggang kutulis. Semua sudah selesai, bagiku. Tidak akan ada lagi kisah cinta pertama atau cinta-cinta berikutnya kembali. Karena seberapa banyak aku meminta, sebanyak itu pula kau tidak akan memilihku.http://e-secretstories.blogspot.com/

Sungguh, aku ingin terjebak dalam sebuah teka-teki yang merubah hidupku selamanya, tak lagi cinta pertamaku. Ingin aku bebas, sepertimereka di luar sana yang tidak terpaku terhadap cinta. Sungguh aku tidak ingin lagi merayakan sebuah cinta, diatas perbedaan yang di agungkan. Tidak berharap lagi bahagia dari kegetiran hati yang selalu mengintai, cinta.

Namun aku tidak bisa, maksudku belum bisa.....http://e-secretstories.blogspot.com/

Inginku memulai kehidupan baru, meski aku belum pernah mengakhiri hidup. Memulai kisah percintaan yang baru, meski aku sudah membenci perasaan cinta. Menghidupkan perasaanku kembali, meski
perasaan ini tak mati untuk cinta pertamaku.

Ya... aku akan mencintai cinta pertamaku secara diam-diam. Menjaga cintaku secara diam-diam. Merasakan siksa rinduku secara diamdiam. Menelan piluku atas khianat cinta pertama juga diam-diam. Dan inginku mulai bicara “Menunggumu bukan pilihan” mengakhiri perkataan itu dengan senyum dan bergegas pergi. Lalu aku bisa mulai mencintaimu diam-diam.

Aku suka itu, aku teramat suka terhadap rahasia. Bahkan sebagian besar hidupku adalah rahasia. Aku tidak akan bicara padamu lagi cinta pertama, tentang harapan yang sama atau impian dari agoku semata, karna ini rahasaia. Aku tidak akan berbagi cerita lagi padamu atau pada buku catatanku seperti biasanya lagi, karena ini rahasia. Aku akan memulaihidup rahasiaku, merahasiakan alasan terindah untukku tetap tersenyum.
Memalsukan cintaku hingga nampak benci, dan biarkan saja aku terbakar habis dalam api cemburuku yang mulai membara. Karena setiap aku menoleh, jejak yang nampak hanyalah sebuah penghianatan, namun cintaku hidup dalam kebodohan, biarkan saja. 

Cinta pertama, aku ingin mencintaimu dengan berbagai cara. Dalam kejujuran cinta, dalam kecemburuan buta, dalam rayuan kata, dalam kesepakatan dusta atau bahkan mencintaimu dalam sebuah rahasia.

***

Belum sempat aku menikmati siksa nostalgia yang tersisa dalam bait ingatanku hingga usai, tiba-tiba muncul keinginanku untuk menuntut ilmu lebih tinggi lagi. Saat sebagian orang sibuk dengan rencana hebat masa depannya atau bahkan sebagian yang lain menjelajahi jejak kisahkisah masa lalunya, aku hanya ingin memperbaiki apa yang aku jalanku sekarang.

Sudahi cinta pertama atau cinta rahasiaku, tekadku kuat. “Aku tidak dapat mengubah apa pun, kecuali aku membuang bagian dari diriku sendiri, ingatan” itu yang memaksaku untuk mengakhiri cinta atau semua siksa gemerlap di dalam cinta itu sendiri, ingatan. 

Aku ingat seseorang yang berkata ke padaku “Jika kamu biarkan masa lalu mengusikmu saat ini, kamu tidak akan pernah bisa berikan yang terbaik untuk masa depanmu yang baik”. Seseorang yang tak pernah kukenali.

Menggantikan semua kesibukan lalu dengan yang baru. Dari baru mulainya pendaftaran di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro. Memilah-milah jurusan Syariah hingga Tarbiyah. Meninggalkan permainan Dota kesayangan pada jaringan Internet yang memberi kenyamanan karena harus mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Agama Islam Negri. Sampai harus pulang dari Warung Internet langganan yang ditunggu oleh teman sendiri saat jarum jam menunjukkan pukul 02:00 WIB tepat-pagi buta.

Setibanya di rumah, dengan harapan Ibu sudah lelap tertidur. Perlahan aku mengetuk pintu, karena biasanya tersisa adikku yang masih mendengarkan musik dari ponselnya.

“Assalamuallaikum.... Di, Aldi” Ucapku memanggil adik laki-lakiku, sambil mengetuk pintu.

“Wa’allaikum salam” Jawab dari dalam rumah.

Ini di luar dugaan, mengapa suara wanita. Ibuku atau kakak perempuanku yang lebih tua, suara mereka memang terdengar sama. Harapanku, itu adalah suara saudari perempuanku, Laras. Sekalipun dia cerewet, dia tidak akan banyak bicara jika sudah semalam ini. Tapi, jika ibuku yang menjawab salamku tadi, maka matilah aku. Harus mencari alasan apa lagi aku sekarang. Bertemu teman semasa sekolahkah? Pasti ibuku sudah bosan mendengarnya. Pura-pura menghitung bintangkah? Dikejar-kejar Anjing tetangga atau bencong-manusia berperawakan pria yang merias wajah serta tubuhnya, bersuara menyerupai wanita tapi dengan jiwa tetap pria dan ciri-ciri lainnya tidak diketahui. Atau harus menempelkan ponsel di telinga seolah ada yang menghubungiku. Aneh memang alasan-alasan itu, tapi biasanya itu yang aku pakai, dan aku berhasil masuk rumah. Tapi... selalu saja berakhir dengan terbongkarnya alasan-alasan itu, entah siapa yang memberi tahu ibuku kalau aku sedang berbohong.

“cekrek” Suara kunci pintu di buka.

Ternyata ibu, langsung saja ibu menghujamku dengan pertanyaan yang sudah kuhafal tanpa memerlukan contekan.

“Dari mana, sampai malam begini?” Pertanyaan ibu-benarkan aku
hafal.

“Anu bu.. Nganu” Entahlah, meskipun pertanyaan ibu sudah aku
hafal, tapi aku selalu gagal menjawab.

“Apa anu-anu”

“Boleh daftar di STAIN ya bu?” Muncul alasan baru, memang sebelumnya aku sudah mendaftar.

“Ya, tapi harus ingat waktu”

“Iya..” Langsung aku bergegas menuju kamarku.

Kantuk tak mampu paksa aku untuk terlelap. Tak biasanya aku begini, mengengar kata “Ya” dari ibu, kini aku langsung saja berkhayal tentang bagaimana aku ada di ruang lingkup baru, di STAIN Jurai Siwo. Tentang bagaimana aroma angin di sana, tentang teman baru yang belum pernah kukenali karena baru. 

Aku terus berkhayal di sana-STAIN Jurai Siwo Metro. Hingga aku tak sadar ketika test masuk, pengumuman masuk dan masa Orientasi Pengenalan Akademik-OPAK, di STAIN Jurai Siwo Metro pun aku tetap berkhayal. Tentang teman baru, bukan cinta baru, aku tidak ingin membuka sayatan hatiku yang sudah aku sembuhkan sendiri.

Aku ingin memulai cerita baruku, karena ini hidupku. Mulai bercerita tentangku, seorang pria yang menemukan kisah bahagianya sendiri. Di lingkungan baru, diantara orang-orang baru. Pada kisah baru, bentuk perjuangan baru, untuk menuntut ilmu bukan lagi cinta.

***

Aku masuk di kelas A Ekonomi Islam, bersama Gilang, Vena, Ela, Trisna, dan Navira. Tanpa mereka sadari, aku mulai menyusun mimpi dengan bijak, yang dulu sempat rusak. Mereka tetap tak sadar, di belakang mereka aku terus menata rencana ke depan dengan urutan langkah yang benar, dulu bagian dariku-ingatan, yang membuatku terhenti.

Mulai mengenal mahasiswa yang ada di sini, dari sahabatku Gilang, pria yang sering unjuk gigi di tiap festival musik. Vena, gadis kecil yang ternyata tetangga dekat rumah-baru kusadari. Ela, wanita dengan suara gurih seperti gorengan renyah, dia menyukai tulisanku yang berjudul “Senyum Kecewa” padahal aku tidak pernah membayarnya. Ada Trisna, berparas manis tapi pasangannya cemburu kepadaku, entahlah. Dan juga Navira, pernah aku berkata kepadanya “Sebentar lagi Kota Metro berulang tahun, dan akan ada pameran Vir, kamu harus buka Stand di acara itu, karena kamu suka pamer” pasti kata-kata itu menyakitkan, tapi semoga saja dia berubah, setidaknya mendekati kebaikan.

“Kamu pria romantis” Kata Rahma kepadaku.

“Senyummu itu, mengalihkan duniaku” Demikian Luluk berkata- Vena saksinya.

Lain mereka, lain juga Hendra, ketua kelas yang menyukai gurauan. Eko, dia mengenakan sabuk hitam saat berpakaian seragam Taekwondo. Mega, menyimpan tanda tanya besar dalam kelembutanya-sifat dasar wanita. Puput, seorang wanita berpemikiran dewasa yang selalu saja mengganggap aku adalah Alex-teman masa kecilnya. Sementara Intan, percayalah tidak ada yang perlu mengenalnya untuk tahu kalau Intan adalah teman yang hangat-dia menganggap semua orang yang di temuinya adalah teman.

Dari sini, perasaanku mulai timbul. Setelah aku berhasil dengan sendiri melangkah dari cinta pertama, tapi jatuh pada cinta lainnya. Bodohnya lagi, wanita yang membuatku merasakan cinta kembali adalah teman dekatku sendiri. Teman yang biasanya mengajakku tertawa bersama. Atau sekedar berbagi permen yang di bagi-bagi pada barisan belakang saat kelas Bahasa Inggris berlangsung.

Apa aku jatuh cinta, lagi? Mungkin hanya sekedar suka, fikirku. Intan, hampir setiap kelas yang terdapat mahasiswa pria pasti menyukainya. Sedangkan aku hanya salah satu pria yang sayang padanya. Tidak ada alasan baginya untuk memilihku. Itu cukup menjadi alasanku untuk mencintainya, bukan karena siapa dia, tapi terlebih karena dia tidak punya alasan untuk memilih bersamaku.

Aku tidak punya alasan kuat untuk tetap bersamanya. Untuk tetap jadi teman dekatnya saja aku tidak punya alasan, tapi memang dia teman dekatku.

***

Hari ini hujan turun, menjawab semua penantian. Aku menanti hujan, hujan menenangkan perasaanku. Dan kebetulan tidak ada jam kuliah, jadi aku bisa berlama-lama mengisi kamarku yang menjadi tempat ternyaman untuk berfikir. 

Dengan menikmati hujan, aku bertanya pada diriku. Mengapa dengan mudahnya aku jatuh cinta kembali, apa salah mata ini? Bagaimana bisa hati yang sempat tersakiti bisa merasakan jatuh cinta kembali, apa dusta hati ini?

Seribu tanya memaksaku duduk di dekat jendela-di kamarku. Mataku menatap kosong ke luar jendela, menyisipkan tanya pada butiran air yang perlahan jatuh. Kedua tanganku tiba-tiba memeluk erat kedua lututku, menahan gigil dinginnya hujan. Mungkin aku akan lelap tertidur dan membiarkan semua pertanyaan tadi ternggelam bersama mimpi dalam tidurku.

Pertanyaan tadi mengganjal di hatiku, aku tidak leluasan menikmati hujan di hari liburku. Ingin mengusaikan pertanyaanku sendiri dengan sekejap, atau melepaskan perasaan ini agar aku tidak lagi mencintaimu.

"Kalau kulepaskan semua perasaanku, apa aku bisa membencimu?

Seberapa banyak aku harus menangis? Sampai perasaan ini hilang? Sebanyak tetes hujan yang jatuh di hari inikah?" Aku hanya tidak ingin merasakan penghianatan seperti yang lalu.

Aku ini biadab, terlalu mudah jatuh cinta. Padahal bagiku cinta bukanlah keterlanjuran, tapi kenyataanya aku menemukan diriku sudah terlanjur jatuh cinta.

“Terkadang lelah yang menyuruhku melakukan perbuatan yang sia-sia itu, jatuh cinta.”

Hingga kau paksakan aku tidur berselimut kesia-siaan ini. Yang semua orang berusaha menjaganya tapi penghianatan yang di dapatkan, aku juga. Ketia setiap insan berdansa merayakan cintanya dan keesokan harinya di paksakan menangis oleh cinta, aku juga.

***

Kali ini aku bersandar lagi padanya, pada dinding-dinding yang membisu. Memandangimu terus menerus, mengartikan semua yang aku rasakan terhadapmu, Intan. Atau sesekali berbisik pada Tuhan, berharap senyummu tak memudar.

Tiba-tiba saja kau datang menghampiriku. Aku lantas berbisik kembali pada Tuhan “Ini dia wanita itu Tuhan. Dia yang mampu menyihirku dengan suaranya, tingkahnya, bahkan senyumnya”.

“Mas, ke kantin, mau?” Suara Intan menyihirku lagi.

“Fotocopy ya pesek?” Jawabku singkat.

“Hahahaha... ☺ aku suka saat mas memanggilku dengan sebutan pesek. Di kantin yang ada kopi mas, fotocopy juga ada tapi di sebelahnya.”

“Iya pesek, tapi kopi di kantin terlalu manis” 

“Terlalu manis kalau minumnya sambil lihat senyum aku ya mas? Haha..” Katanya, sambil mengulurkan tangannya.

Aku hanya terdiam, sambil bersamanya berjalan menuju kantin. Dan duduk di keramaian kantin yang perlahan menyepi.

Kopi hitam, minumannya. Aneh, bahkan ibuku saja lebih memilih untuk meminum teh. Atau kakak perempuanku lebih banyak minum air putih. Tapi dia-Intan, sama sepertiku. Hanya karna sedikit persamaan, aku dan dia sama-sama menyukai kopi hitam.

Aroma saat bubuk kopi halus mulai di banjiri air yang mendidih. Saat-saat gembira ketika menunggu ampas-ampas kopi itu turun dari permukaan gelas. Ada banyak orang yang menyisihkan waktu untuk menikmati secangkir kopi hangat, mungkin aku dan Intan diantaranya.

Aku lihat langsung, bagaimana matanya menyorot tajam ke arahku. Sementara bibirnya asik mencumbui bibir gelas, menikmati kopi di dalamnya. Dan mengakhiri dahaganya itu dengan senyum manisnya, aku mulai menyukai semua tentang dia-Intan, tentang wanita yang sama-sama menggilai kopi hitam itu.

Aku tak lagi terbiasa mencintai. Tapi jika harus, biarkan aku mempelajarinya sekali lagi. Iya, mungkin saja aku bisa benar mencintai jika aku mempelajarinya, pada dirimu-Intan, juga pada aroma secangkir kopi yang sama-sama kita gilai.

Aku dan dia menikmati waktu bersama di tiap-tiap cangkir kopi kami masing-masing dengan aroma hangat kopi yang sama. Sampai detik merangkai durasi yang lama, cukup lama. Dan memaksa aku dan dia mengakhiri pertemuan di kantin dengan segala cerita tentang secangkir kopi manis dan senyumnya yang manis pula.

***

Aku masih menunggumu di sudut kantin saat ini. Untuk menikmati ulang kisah manis di setiap cangkir kopi. Tapi, Intan, apa kau mengerti kenapa setiap orang berkata, pertemuan pertama adalah kebetulan? Jika pertemuan pertama adalah kebetulan, bolehkah aku samakan cinta pertamaku juga seperti pertemuan pertama, adalah sebuah kebetulan?

Intan, aku tidak bisa menjelaskan sejak pertamakah atau setelah itu-setelah pertemuan pertama, aku jatuh cinta padamu. Tapi yang aku mengerti, saat kau campur adukkan senyum manismu dengan paduan secangkir kopi, aku menyadari dan tak lagi memungkir tentang itu, cinta yang sempat aku lupakan.

Kupejamkan sejenak mataku, mencoba meraba wajahmu dalam ingatanku. Seperti sihir, ketika aku kembali membuka mata, ingatan tentangmu saja menjadi pelukis dua lengkung senyum diwajahku. Entahlah Intan, sebelumnya aku tidak tahu siapa cintaku sebenarnya. Bahkan untuk memikirkanmu saja aku ragu. Tapi setelah waktu dan jarak memisahkan, aku baru tahu bahwa kau yang telah mengisi hati, sulit untuk mengakui itu.

You may like these posts