Andai Izrail Dulu Mengambilku
Aku masih mengingat siapa aku dua belas tahun yang lalu. Meski tidak banyak perubahan, tapi jelas-jelas saat itu aku masih tertidur tak mampu lakukan apapun di atas kasur pasien. Mengalami gagar otak ringan, hilang ingatan, tangan kanan keracunan obat. Lebih-lebih harus buang air besar di tempat.
Sembilan hari aku menjalani rawat inap di RS. Abdoel Muluk. Mencuri perhatian penuh dari keluarga; terlantarlah adik perempuanku yag kala itu masih kecil. Ibu dan Ayahku terlihat tersenyum di hari terakhir itu. Melepas segala resah, meski masih kuingat jelas kekhawatiran kepadaku saat itu. Bahu kananku diapit Ibu, sementara yang kiri dengan erat diapit Ayah. Mereka mengajariku berjalan keluar ruangan untuk pulang; kedua kakiku patah, aku menurut saja. Jika aku sudah mengerti kesedihan, pastilah aku menangis kala itu.
Sesampainya di rumah, aku ingin memeluk erat adik perempuanku. Bermaksud meminta maaf kepadanya, karena selama aku berada di rumah sakit, aku terus ditemani ibu, sementara dia harus terlantar. Tapi dia tidak mau berada di pelukanku lebih lama. Entahlah, mungkin sudah terlalu dalam aku dibencinya.
Ibu mengajariku menulis, mengingat, bercerita kejadian sebelum aku terjatuh. Aku diam saja, karena pikiranku terasa sakit saat aku berusaha mengingat lebih dalam lagi. Sementara Ayah mengajariku untuk berjalan, menapaki jejak-jejak kehidupan yang saat itu kupikir 'mungkin pernah aku lewati.' Tapi Nenek mengajariku dalamnya kasih sayang. "Jalani saja, Yan. Karena belum waktunya dirimu mengingat semua, jangan kamu paksakan," ujar wanita yang kusebut Nenek itu. Kini aku bisa menggunakan tangan dan kakiku, meski dalam kapasitas tertentu aku harus menyerah. Sedang pikiranku, aku bisa menggunakannya lebih maksimal, tapi jangan paksa untuk mengingat kejadian saat umurku sembilan tahun dan sebelum itu. Karena itu sia-sia, aku tidak mengingatnya.
Aku punya keluarga yang hebat, luar biasa. Tapi jika ada yang bertanya, "siapa manusia paling berdosa di muka bumi ini?" Sebut saja diriku, Afriyan Arya Saputra.