2. Seal Online : Arti Sebuah Kehangatan
Malam ini kami sampai di kota yang bernama Kuil Adel, sebelah utara Shiltz. Perjalanan kali ini lebih cepat dari biasanya, karena Guild Luminouspark mempunyai kereta; berbentuk Labu, sendiri untuk mengangkut semua anggotanya pergi, kemana pun. Aku diperkenalkan oleh Dhaniel kepada masyarakat sebagai anggota baru yang akan melindungi Shiltz, termasuk Kuil Adel. Anastashya terbang menghampiri kami dengan Queen Bee Wings-nya. Sementara Rogo, tetap belum sadar setelah tak kuat menahan api dari Fire Dragon; seperti yang diceritakan Dhaniel ketika di perjalanan.
"Malam ini juga kita semua akan berpesta" teriak Dhaniel di hadapan seluruh masyarakat Kuil Adel. Tak lama kemudian, sorak-sorai memenuhi setiap sudut kota ini.
Pesta seperti apa jika mendadak seperti ini. Di kota asalku, Lime, jika ingin mengadakan pesta, maka rencana itu harus dibuat satu minggu sebelum hari yang dimaksud. Tiba-tiba ada yang menyelinap diantara pepohonan. Kadang nampak bercahaya, lalu menghilang lagi pada dahan pohon lainnya.
Aku sudah berusaha berulangkali menjelaskan ada pengintai, tapi Dhaniel dan Anastashya malah tersenyum, aku dibuat seperti orang bodoh. Malah Anastashya berkata, "kau hanya berasal dari kota dimana para pemegang pedang besar terbaik lahir, Nathan....." lalu terbang lewat tepat dihadapanku. Bubuk-bubuk Gypsie lebih mewarnai sayapnya itu.
Anastashya menghampiri pengintai itu. Tapi yang kusaksikan dari bawah, mereka tidak saling memusuhi, malah seperti sedang mengatur rencana. Mereka memandang kearahku, terlihat senyum kecil dari keduanya. Lalu, "wussss....," mereka terbang tepat di atasku. Menari-nari di langit Kuil Adel, sambil tertawa riang. Bubuk Gypsie ada dimana-mana, indah sekali malam ini.
"Aku Previta" kata wanita yang aku kira adalah pengintai itu.
"A... Aku Nathan" seraya inginku menjabat tangannya, tapi belum sempat aku menggenggam tangan itu...
"Ini untuk Nathan" dia tersenyum, lalu bibirnya mengucap mantera yang rumit. Aku hanya mendengar dengan jelas ketika ia mengucap 'Snow', lalu tangannya seolah melontar sesuatu ke atas langit, tongkat sihir dari seorang wanita yang baru kusadari adalah seorang Magician ini diangkat tinggi-tinggi. Tiba-tiba sorak-sorai masyarakat penghuni Kuil Adel semakin menjadi, setelah menyaksikan Previta menurunkan hujan salju. Dan mendarat tepat di sampingku.
"Ini indah sekali. Bubuk Gypsie bercampur salju sedingin ini" kataku, membuka percakapan dengan Previta.
"Nathan merasa dingin?"
Aku mengangguk saja, berharap dia mengerti maksudku. Bibirnya mengeja mantera lagi, kali ini seperti 'Pheonix'. Benar saja, sekarang di telapak tangannya terdapat banyak anak-anak burung api. Diarahkan kepadaku, lalu dihembuskan olehnya. Sekujur tubuhku dikelilingi burung-burung api kecil, hangat.
"Terimakasih." Ucapku kepada Previta.
"Tidak perlu berterimakasih," matanya mengarak kepadaku. "Jangan mendekati es, jika tidak ingin beku karenanya. Jangan dekati api, jika tidak ingin terbakar didalamnya. Tapi kita butuh kedua itu, untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tegas wanita manis itu.
"Maksud Previta?" Tanyaku penasaran, tak mengerti.
"Ada dingin, pasti karena kita pernah rasakan kehangatan. Begitu sebaliknya, Nathan....." Jelasnya, sambil tetap menahan lama senyum manis di wajahnya.
***
Waktu Shiltz, bagian Kuil Adel.
