4. Seal Online : Bunga-bunga Dasie
Previta berdiri di tengah taman bunga Dasie. Dia sedang menikmati hangatnya mentari pagi, menghirup wangi lembut bunga itu, pikirku.
"Kamu sedang apa berdiri di situ, Nath?" Tanya Previta mengejutkanku.
"Harusnya aku yang bertanya demikian, Prev. Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Prev?" Tanyaku keheranan. "Menikmati hangat mentari?"
"Hanya rasa penasaran itu yang membuatmu mendatangiku kemari, Nath?"
"Iya..."
Gadis Elf ini tidak lagi memperlihatkan sikap centilnya seperti malam tadi. Seperti tak ingat apa-apa, menganggapku asing, mungkin. Bahkan tak kulihat senyumnya dari kejauhan sekalipun. Dasar wanita, tidak pernah bisa kutebak sikapnya, lirihku dalam hati.
"Kau lupa, Nathan?"
"Lupa? Tentang apa?" Aku semakin terlihat bodoh di depan gadis ini. "Sedikit pun kamu tidak membocorkan apa yang ada di pikiranmu, Prev."
Hahahaha... Tawanya terdengar renyah. "Ucapanku semalam... Ini bulan ke empat di tahun Cahaya, lupakah itu, Nath?"
"Oh..." Keluhku singkat.
Aku berjalan mendekat. Semilir angin terus berhembus deras, seperti hujan pada musim hujan. Kutatap lebih dekat wajah oriental, sepasang mata indah, dan juga pemiliknya yang bergeming tanpa menghapus bulir air di kerut dahinya-nampak kepanasan.
"Lihat Nathan!!!" Perintahnya tegas. Terdengar bersemangat.
"Apa?" Aku semakin memandanginya tajam, dalam. "Tidak kulihat apa-apa di wajahmu, selain kesungguhan yang penuh harap itu, Previta."
"Bukan aku, lihat sekelilingmu."
Kuturuti saja permintaan gadis Elf itu. Kujelajah; melihat, setiap lekuk bagian taman bunga-bunga Dasie yang bermekaran. Nampak pemandangan bercahaya, diperkuat oleh harum bunga-bunga itu sendiri.
Elf-elf mungil keluar dari kelopak bunga-bunga Dasie yang bermekaran. Harumnya seperti tak ingin kulupakan walau hanya sesaat. Indah.
"Sekarang kamu percaya apa yang kuucapkan semalam padamu, Nath?" Tanya Previta menghancurkan lamunan tentang apa yang luar biasa ini; Elf terlahir kembali.
"Iya... Aku percaya, Prev."
"Indah, kan?"
"Tapi ini sungguh tidak masuk akal, Prev" Previta tidak menjawab apapun. Hanya tawa kecil, sungguh menggelikan jika mendengarnya. "Kenapa tertawa?" Aku sedikit tersinggung dengan caranya tertawa.
"Kamu pikir 'sesuatu' itu masuk akal, Nath?" Aku semakin terpojok, bodoh nampaknya. "Siapa yang mampu jelaskan? Bagaimana bahagia terasa walau mata menangis. Atau kamu cukup bahagia dengan seseorang yang ternyata ada pada bagian hidupmu di masa lalu. Singkatnya, hidup ini pun tidak masuk akal, sama seperti mimpi-mimpi indah semalam. Dan kamu tetap mempercayai indah itu ada dalam hidupmu di dunia nyata, Shiltz."
***
Bulan ke-empat di tahun Cahaya.
