3. Seal Online : Previta, Kuil Adel dan Kekhawatiran
Previta mengedipkan matanya kepadaku, dibarengi gerak sayap yang ia miliki. Sedikit centil dibandingkan dengan Anastashya; terkesan pendiam. Baru kusadari ternyata dia berasal dari bangsa Elf, terlihat dari daun telinganya yang memanjang ke atas, juga matanya yang besar laksana purnama penuh.
"Kau Elf?"
"He'em..." Kepalanya naik-turun lalu tersenyum, manis.
"Di kota asalku. Di Selatan Shiltz, tepatnya di kota Lime, sudah jarang sekali ditemukan bangsa Elf."
"Benarkah, Nathan?" Tanya Previta lebih serius; mungkin karena di Kuil Adel masih seimbang antara Elf, Gypsie, dan Manusia.
"Benar, Prev...."
"Sebentar-sebentar..."
Dia langsung menunduk, tangan kanannya menggelitik permukaan lantai Kuil Adel. Lalu dihentakkannya tongkat yang masih digenggam erat pada tangan kiri. Tak sempat kudengar mantera yang ia ucapkan kali ini. Tapi setelah itu, tiba-tiba muncul kursi kayu klasik persis seperti yang ada di setiap rumah pohon di kota asalku.
"Sekarang silahkan duduk, Nathan" Ucapnya sedikit centil.
"Terimakasih"
"Jangan lagi..." Dilepasnya senyum manis miliknya, lalu berkata, "lanjutkan cerita tentang kota asalmu, Nath."
"Baik. Dulu, waktu aku kecil. Hampir semua teman sebayaku berasal dari bangsa Elf dan Gypsie. Bermain kemana pun kami selalu bersama." Jelasku singkat.
"Lalu..." Nada penasaran itu terdengar jelas dari ucap Previta.
"Suatu ketika, saat kami bermain jauh sekali masuk ke dalam hutan sebelah timur Lime. Kami masuk dalam perangkap Bale. Sekuat tenaga kami coba untuk melawan Bale itu; Momo King Wars. Tapi karena mantera teman-temanku yang berasal dari bangsa Elf belum begitu mistis, bubuk yang dibawa oleh para Gypsie sangat terbatas, dan juga tarian pedang dari para pemegang pedang besar maupun kecil belum begitu lincah, kami semua kalah."
Kalah? Lalu?" Kali ini Previta benar-benar berada dalam rasa ingin tahu yang kuat.
"Ia... Lalu banyak temanku yang berasal dari bangsa Elf dan Gypsie yang menyerahkan jiwa mereka kepada Bale itu demi menyelamatkan bangsa Manusia. Akulah salah satunya yang terselamatkan, Prev"
"Bukankah itu memang sudah menjadi tugas kami, para Elf dan Gypsie, untuk melindungi Manusia"
"Dengan menyerahkan jiwa-jiwa?" Desakku kesal.
"Raga kami saja yang mereka perlukan. Dan setiap jiwa-jiwa Elf yang hilang, akan muncul kembali dari kuncup-kuncup bunga Dasie pada bulan ke empat di setiap tahunnya, Nath."
"Be... Benarkah?" Tanyaku terbata-bata.
"Tentu saja. Aku juga berasal dari Lime, dan mungkin aku salah satu temanmu yang menyerahkan diri itu. Hihihihi..." DIakhirinya dengan tertawa panjang.
"Lalu bagaimana dengan seorang Gypsie?"
"Gypsie akan terlahir pada purnama pertama. Dengan kata lain, setiap Elf dan Gypsie, sama jumlahnya dari dulu hingga sekarang."
Aku masih dibuat bingung oleh cerita Previta. Bagaimana bisa begitu? Sedangkan bangsa Manusia tidak pernah ada kesempatan untuk kembali. Bahkan di kotaku banyak yang takut kehilangan nyawanya daripada harus menolong bangsa lain, atau sekalipun bangsanya sendiri.
"Rogo!!!" Tiba-tiba Anastashya berteriak, mencuri seluruh perhatian.
Seluruh pasangan mata yang ada di Kuil Adel langsung menyorot ke tempat Rogo terbaring. Wajahnya kini pucat-pasif. Sementara Anastashya tetap berusaha menyembuhkan luka Rogo.
"Kendalikan dirimu, Tashya." Perintah Dhaniel.
"Dia adikku. Kau pasti tidak akan mengerti!!!" Sekarang Anastashya terlihat marah.
"Tunggu..." Teriak Previta panjang.
Aku tidak mengerti apa yang akan dilakukan Previta hingga ia terlihat tergesah-gesah. Terbang kearah dengan cepat, lalu berdiri tepat di depan Rogo yang terkulai. Tubuhnya lalu memancarkan cahaya terang. Semerbak harum tercium seperti mekar-mekar bunga Dasie pada bulan ke empat itu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Mungkin saja Previta ingin menukar jiwanya demi kesembuhan Rogo. Tapi tak kulihat satupun yang berusaha mencegah.
Belum sempat mantera diucapkan Previta, "jangan bodoh...," teriakkan panjangku menghentikannya. Membuat suasana pesta malam itu yang sempat ramai menjadi hening sejenak. Termasuk dia yang memandangku sambil berbalik; Previta.
"Jangan, janan lagi." Ucapku terengah-engah kepada Previta.
Mendadak hadir kerutan pada dahinya, matanya menangkapku tajam seolah aku benar-benar di dalam mata itu. Jika diberikan kesempatan, mungkin ia akan katakan jangan halangi aku. Tapi siapalah yang menghalangi? Hanya saja, aku tak rela.
"Kenapa?" Tanya Previta keheranan.
"Jika kau benar salah satu temanku dulu dari Lime. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kali"
"Memang benar aku temanmu dulu. Tapi ini sudah menjadi kewajibanku, meski kehidupanku yang sekarang harus aku relakan. Bukankah aku akan terlahir kembali dari kuncup-kuncup bunga Dasie yang bermekaran."
"Tapi berapa lama lagi aku harus menunggu kau hadir lagi, Previta"
"Nathan! Kau masih anak baru! Tahu apa kau itu!" Bentak Anastashya mengecilkan nyaliku.
Jelas saja dia; Anastashya, tidak ingin aku menghalang-halangi Previta menukar jiwanya demi kesembuhan adikknya, Rogo.
Tiba-tiba mulut Rogo menggumam. Entah apa yang sedang dia eja, tak jelas. Tapi sekelilingnya melihat pemandangan yang sama. "Apa-apaan kalian semuanya ini? Aku tidak apa-apa. Jangan Khawatirkan aku," ucap jelas Rogo, sambil mengacungkan Ibu jarinya ke langit. lalu Anastashya memeluknya, terlihat erat.
***
Setelah kejadian itu, Previta mengajakku pergi menuju desa yang ada di Kuil Adel. Tempatnya sedikit jauh, katanya. Jadi kami menikmati perjalanan menggunakan Kereta Kuda dari kota. Kereta ini sungguh nyaman, dengan atapnya yang terbuka langsung menatap langit. Tentu setiap yang menaiki akan menikmati pemandangan bintang pada malam hari.
"Prev, kenapa kau ingin lakukan itu?" Tanyaku membuka percakapan.
"Melakukan apa?"
"Menukar jiwamu, seperti yang ingin kau lakukan tadi."
"Demi kebahagiaan, Nath."
"Kebahagiaan katamu? Itu sama halnya dengan menyakiti diri sendiri."
"Bukan, Nath. Bahagia itu ketika kita mampu memberi dalam situasi apapun. Bahagia yang sesungguhnya bukan terletak pada apa yang kita miliki, Nath. Lebih jauh dari itu. Ketika kita mampu merelakan apa yang kita miliki, lalu mendapati yang lain tersenyum lepas, itulah bahagia sesungguhnya, Nath."
Mendengar kata-kata Previta aku langsung terdiam. Kadang menunduk, kadang menengadah ke langit-langit, menikmati pemandangan gambaran bintang pada malam hari. Dan mencoba bahagia, merelakan diriku sekhawatir tadi, hanya takut kehilanganmu lagi; Previta.
***
Masih Pada Malam Yang Sama.
Kuil Adel.
.jpg)