Senja Yang Kau Ingkari
Aku sempat mengira kesempurnaan itu sesuatu yang tidak bercelah. Maksudku, bahagia akanlah terasa bahagia selamanya. Ternyata tidak, senyum pun harus tergantikan oleh air mata; kesedihan. Baru kita akan benar-benar mengerti arti kebahagiaan itu sendiri.
Mengertikah Kau saat tersenyum lepas, lalu pilu datang tiba-tiba tanpa rencana hatimu. Detik itu juga harapan harus Kau kuburkan dalam-dalam. Tak biarkan hirup udara segar, seakan. Waktu seolah enggan berlalu, meski arloji yang Kau kenakan berputar dengan kencangnya.
Hingga suatu ketika, Kau harus menyambangi makam harapanmu itu setiap saat. Merampas setiap kebahagiaan dalam sunyi, bahkan bahagia yang sempat Kau cicipi akan terasa sepat tanpa harapan.
***
di Kota Kecil.
Metro, 30-0814
