2. Buku Tua : Wanita Itu Tersenyum



Aku bersantai meminum kopi dan kembali membuka lembaran di buku aneh itu. Melanjutkan halaman selanjutnya. Mencari kelanjutan gambar, bukan karena aku kembali tak suka membaca; Kak Nissa dan Kak Pink sudah mengajariku menyukai aktivitas membaca. Tapi karena aku tidak bisa membaca aksara pada buku aneh ini. Jadi aku bercerita dengan bahasaku sendiri dari gambar-gambar yang ada.

Sekitar tiga pulih menit aku memahami gambar yang ada di halaman 1333. Gambar dengan pintu terbuka dan cahaya terang yang mengelilingi. Terdapat wanita cantik banyak di bagian dalam pintu. Dengan sepasang sayang dan gaun yang sama berwarna putih. Lelah kupandangi gambar yang kuyakini gambaran lanjutan dari gambar pintu halaman 1313, tiba-tiba salah seorang wanita yang terdapat di dalam gambar itu seakan mengepakkan kedua sayapnya. Lalu tersenyum kepadaku. Tak lama merapal sesuatu, mungkin itu namanya, "Lilie."

Ketakutan mendekapku erat. Tak mampu aku mengendalikan diriku sendiri, inginku menutup rapat halaman yang terbuka, tapi tanganku mendadak kaku, tak mampu kugerakan. Mataku yang sedari tadi memandangi gambar itu kini melelehkan air, tapi perasaanku tidak sedang merasakan sedih. Sampai ada yang mengejutkanku.

"Apa yang kau pikirkan tentang dia?"

Ucapan itu berasal dari halaman selanjutnya, dari seorang lelaki tua berjanggut putih sedang berlari seolah menjauh dariku.

Kupercepat membuka halaman tebal yang tersisa. Tapi lelaki tua itu tidak aku temukan. Baik pada aksara, gambar atau pun halaman yang ada, mungkin belum waktunya, pikirku.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya adikku mengejutkan.

Aku diam, tidak menjawab. Karena masih bingung dengan buku yang aku pegang erat. Tentang sampul buku kusam, aksara kuno, gambar-gambar aneh, lelaki tua yang berlari, juga wanita yang tersenyum. Tapi... Bagaimana lelaki tua itu berbicara sesuai dengan bahasa yang kupakai, sedang aksara pada buku ini jauh berbeda?




You may like these posts