2. Rosé : Dinding Pembatas
Resah merengkuh dalam keramaian. Beribu kali aku memaki situasi ini. Tanpa ucap, kudustai hati untuk sebuah kenyamanan. Apa lagi saat seorang teman berteriak kepada Tuhan untuk kekecewaannya. "Sudahlah... itu tidak merubah apapun," batinku.
Doa tidak mampu merubah apapun tanpa tindakan briliant. Begitu juga tindakan briliant, tidak akan indah tanpa doa. Tapi yang terpenting dari setiap 'sesuatu' yang kita keluhkan kepada Tuhan; doa, adalah memperjuangkannya sekuat kemampuan yang kita miliki.
Tiga puluh menit tanpa ucapku. Resah semakin menyelimuti. Hingga rasa khawatir bersarang, menyiksa diri.
"Kenapa diam? Apa yang sedang kau lamunkan, Yan?" tanya Nanci mencairkan makianku kepada situasi.
Tak lama Nanci berlalu meninggalkan aku dalam keramaian. Pasti itu karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya tidak ingin diganggu dengan siapapun saat sedang resah, sekalipun itu Tuhan. "Maapkan aku Tuhan... Maapkan aku Nanci" sungguhlah aku nampak berdosa.
Jantung berdetak kencang. Mataku tak lengah pandangi anak tangga yang nampak kosong. "Ada apa sebenarnya ini...?" Aku semakin tak mengerti untuk mengartikan semuanya. Tak lelah mataku menyusur, hingga mataku menangkap pemilik sepasang mata indah menapaki anak-anak tangga untuk turun. Rose tersenyum. Entah kepada siapa. Karena mustahil dia melihatku di balik kaca jendela.
Mendadak aku menikmati suasana. Teduh parasnya tak mampu kuingkari. Begitu pun senyum manis yang tetap ia gantung. Tapi mustahil aku mendekat, cukup kagumi di balik kaca jendela yang menjadi sekat.
