3. Rosé : Dirimu Tetap Seperti Bidadari
Rinai hujan menangkapku dalam kuyup baju yang kukenakan. Berlari aku tuk menghindar, namun apalah daya tak mampu akan itu. Jadi kubiarkan baju yang kukenakan semakin basah hingga kedalam.
Sunyi merangkap hening. Ramai riuh kampus mendadak sepi karena hujan turun. Masing-masing mahasiswa pergi menyelamatkan diri dari hujan, kecuali aku. Merana sendiri karena kebodohan kecil, memalsukan sedihku dalam derasnya hujan. "Anak kecil selalu mengatakannya begitu."
Masih kugenggam erat surat beramplop merah jambu yang kupersiapkan semalaman untuk Rosé. Meski sudah sedikit basah terkena hujan, tetaplah aku berniat untuk menyerahkannya kepada wanita keibuan itu. Sekalipun dirinya tidak sudi menerima surat ini, 'tak mengapalah. Toh ini kulakukan setulus hati.
Jalan kupercepat mencari-cari Rosé di setiap sudut kampus. Hingga kutemui dirinya memakai gamis berwarna kuning lembut sedang duduk pada anak tangga paling bawah. Bibir tipisnya menahan gigil. Sambil erat memeluk tas selempang, wajahnya yang biasa terlihat merah padam kini pucat pasi.
Aku tersenyum dari kejauhan; entah Rosé melihat atau tidak, tapi aku bahagia menemukannya. Semakin erat amplop merah jambu itu aku genggam. Kusodorkan dengan kedua tanganku kepada Rosé.
"Apa ini?" tanya Rosé singkat sambil tetap menahan gigil.
"Bukan apa-apa, kak. Aku hanya senang melihat wajahmu."
Tiada jawab dari Rosé. Malah dia sibuk dengan ponsel genggamnya. Lalu menghancurkan semua harapanku dengan perkataannya...
"Terimakasih," ucapnya lembut sembari tersenyum, "dik... sudah dulu ya? Kekasih kakak sudah menjemput"
