Belum Waktuku
Dari berjuta manusia di dunia ini, pasti ada beberapa yang mampu melihat, merasakan, dan berinteraksi dengan makhluk Astral. Bahkan ada yang mampu melakukan Astral Projection; memisahkan sukma dengan raga, serta Lucid Dream; menjadi penentu jalannya mimpinya sendiri. Seorang yang mampu melakukan salah satu kegiatan tersebut biasanya disebut dengan manusia Indigo. Aku tidak berusaha mencari informasi dari seseorang tentang dunia Astral. Karena aku sendiri pernah mengalaminya. Ya, dengan kata lain, aku termasuk manusia yang mampu menenbus batasan manusia normal.
Aku sempat menceritakan hal ini kepada kakak perempuanku, tapi tanggapannya kurang begitu baik, aku dianggap hanya menghayal saja. Dari situ aku beranikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku, terutama Ibu, karena aku lebih dekat kepadanya. Katanya, dua belas tahun lalu aku sempat mengalami gagar otak, tergeletak lemas di atas kasur pasien tak sadarkan diri selama tiga hari. Lebih-lebih, setelah itu aku sempat mengalami hilang ingatan, bahkan orang tua pun tak aku kenali, jawab Ibuku atas apa yang aku pertanyakan. Semenjak itu aku dinilai lebih menutup diri.
Dalam kehidupan sehari-hari pun aku lebih memilih untuk menjadi seorang yang pendiam, meski aku berkumpul dengan banyak teman. Mungkin, jika ada seseorang yang belum mengenalku, akan menilai aku adalah orang yang sombong dalam pertemuan pertama. Hal ini aku lakukan karena memang aku tidak merasakan kenyamanan. Satu-satunya yang membuatku nyaman hanyalah berada dalam sunyi, sendirian. Seperti suasana yang kudapati jika di dalam kamar.
***
Malam itu aku berpamitan pulang pada teman-temanku karena merasakan kantuk yang teramat. Aku diantar pulang oleh seorang teman sampai pemakaman umum yang berada di dekat rumah. “Biarlah, nyatanya pemakaman ini hanya berjarak kurang lebih dua puluh meter dengan rumah,” pikirku sejenak.
Awalnya aku merasakan hal yang tidak biasa, keadaan yang sangat sunyi, padahal jam pada alat penunjuk waktu belum genap menunjukkan tengah malam. Sampai saat aku
berjalan tepat di samping pohon Beringin yang tumbuh besar di luar makam. Tiba-tiba saat itu juga aroma wewangian persis seperti kelopak-kelopak bunga pengiring kematian, menyusup lembut masuk ke indera penciuman. Bulu kudukku berdiri, mata berkontraksi lebih tajam, hingga nampaklah sosok yang sebelumnya pernah aku jumpai. Dia memakai kain Kafan putih, bersih, lengkap dengan pengikat di setiap ujung dan terdapat satu di tengahnya.
Sosok itu tak menapaki tanah, melayang diantara bumi dan langit. Tapi lebih dekat ke tanah; kira-kira satu meter tepat di atas nisan salah satu makam. Terlihat dia mulai mendekatiku, sementara aku tetap berdiri tegap di luar makam sambil mengharap perlindungan Tuhan. Sampai ketika jarak itu semakin dekat, aku membuat pilihan untuk berlari menuju rumah atau kembali ke tempat teman. “Dengan yang seperti itu saja kamu takut, yan?” Seperti sosok lain baru saja berbisik tepat di telingaku.
Mencerna ucapan yang entah dari siapa tadi itu, keberanian langsung mendekapku erat; lebih erat daripada seekor Kucing yang melukai Harimau saat ketakutan. Sambil tetap berharap perlindungan Tuhan, aku pandangi tajam, sampai dia; yang mengenakan kain kafan, menghilang di rawa, pada sisi lain pembatas pemakaman.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan sekujur tubuhku. Lalu bergegas tidur bersama ingatan tentang sesuatu yang baru saja aku alami.
***
Saat menyadari yang sedang aku alami adalah mimpi, biasanya aku langsung mengambil alih mimpiku sendiri; Lucid Dream. Tapi kali ini berbeda, sepertinya karena terlalu memikirkan kejadian yang ku alami sebelum tidur, aku menjadi seperti orang bodoh dalam mimpi. Aku dipaksa berlari menyurusri lorong tua, menghindari kejaran makhluk Astral yang berbadan besar. Sampai akhirnya aku bertemu dengan mendiang temanku.
“Kak... Kak Iyan, sini kak. Ikutlah denganku.” Ujar temanku sambil melambai-lambaikan tangan.
Aku mendekati sosoknya, lalu berkata, “kemana?”
Tiada jawab darinya, hanya saja tangannya menunjuk ke arah tepat di depanku. Memang terlihat indah, tapi aku sadar bahwa temanku ini sudah meninggal.
“Tapi kamu sudah meninggal, enam bulan yang lalu aku menghadiri undangan duka itu. Tenanglah di duniamu yang sekarang.” Ujarku kepadanya.
Aku merasakan sakit yang amat di kepalaku. Tak lama dari situ, aku terbangun dari tidur, mendapati tubuhku sudah basah kuyup. Melanjutkan hidup dalam dunia nyata, bukan lagi dalam tidur untuk bermimpi, meskipun dunia nyata lebih kejam daripada itu. Sambil meneguk segelas air putih, aku tetap berusaha menenangkan diriku, duduk di ruang keluarga.
Setelah selesai mandi, aku menceritakan kejadian semalam kepada ibuku. Mulai dari bertemu sosok yang memakai kain kafan, sampai diajak pergi oleh mendiang temanku. Sontak ibu menangis, mendekapku erat seperti tak izinkan aku pergi ke mana-mana. Kubalas dekapan ibu lebih erat, sambil mengucap lembut, “Iyan sayang ibu. Iyan tetap bersama ibu, jangan sedih, bu.”
Aku sempat menceritakan hal ini kepada kakak perempuanku, tapi tanggapannya kurang begitu baik, aku dianggap hanya menghayal saja. Dari situ aku beranikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku, terutama Ibu, karena aku lebih dekat kepadanya. Katanya, dua belas tahun lalu aku sempat mengalami gagar otak, tergeletak lemas di atas kasur pasien tak sadarkan diri selama tiga hari. Lebih-lebih, setelah itu aku sempat mengalami hilang ingatan, bahkan orang tua pun tak aku kenali, jawab Ibuku atas apa yang aku pertanyakan. Semenjak itu aku dinilai lebih menutup diri.
Dalam kehidupan sehari-hari pun aku lebih memilih untuk menjadi seorang yang pendiam, meski aku berkumpul dengan banyak teman. Mungkin, jika ada seseorang yang belum mengenalku, akan menilai aku adalah orang yang sombong dalam pertemuan pertama. Hal ini aku lakukan karena memang aku tidak merasakan kenyamanan. Satu-satunya yang membuatku nyaman hanyalah berada dalam sunyi, sendirian. Seperti suasana yang kudapati jika di dalam kamar.
***
Malam itu aku berpamitan pulang pada teman-temanku karena merasakan kantuk yang teramat. Aku diantar pulang oleh seorang teman sampai pemakaman umum yang berada di dekat rumah. “Biarlah, nyatanya pemakaman ini hanya berjarak kurang lebih dua puluh meter dengan rumah,” pikirku sejenak.
Awalnya aku merasakan hal yang tidak biasa, keadaan yang sangat sunyi, padahal jam pada alat penunjuk waktu belum genap menunjukkan tengah malam. Sampai saat aku
berjalan tepat di samping pohon Beringin yang tumbuh besar di luar makam. Tiba-tiba saat itu juga aroma wewangian persis seperti kelopak-kelopak bunga pengiring kematian, menyusup lembut masuk ke indera penciuman. Bulu kudukku berdiri, mata berkontraksi lebih tajam, hingga nampaklah sosok yang sebelumnya pernah aku jumpai. Dia memakai kain Kafan putih, bersih, lengkap dengan pengikat di setiap ujung dan terdapat satu di tengahnya.
Sosok itu tak menapaki tanah, melayang diantara bumi dan langit. Tapi lebih dekat ke tanah; kira-kira satu meter tepat di atas nisan salah satu makam. Terlihat dia mulai mendekatiku, sementara aku tetap berdiri tegap di luar makam sambil mengharap perlindungan Tuhan. Sampai ketika jarak itu semakin dekat, aku membuat pilihan untuk berlari menuju rumah atau kembali ke tempat teman. “Dengan yang seperti itu saja kamu takut, yan?” Seperti sosok lain baru saja berbisik tepat di telingaku.
Mencerna ucapan yang entah dari siapa tadi itu, keberanian langsung mendekapku erat; lebih erat daripada seekor Kucing yang melukai Harimau saat ketakutan. Sambil tetap berharap perlindungan Tuhan, aku pandangi tajam, sampai dia; yang mengenakan kain kafan, menghilang di rawa, pada sisi lain pembatas pemakaman.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan sekujur tubuhku. Lalu bergegas tidur bersama ingatan tentang sesuatu yang baru saja aku alami.
***
Saat menyadari yang sedang aku alami adalah mimpi, biasanya aku langsung mengambil alih mimpiku sendiri; Lucid Dream. Tapi kali ini berbeda, sepertinya karena terlalu memikirkan kejadian yang ku alami sebelum tidur, aku menjadi seperti orang bodoh dalam mimpi. Aku dipaksa berlari menyurusri lorong tua, menghindari kejaran makhluk Astral yang berbadan besar. Sampai akhirnya aku bertemu dengan mendiang temanku.
“Kak... Kak Iyan, sini kak. Ikutlah denganku.” Ujar temanku sambil melambai-lambaikan tangan.
Aku mendekati sosoknya, lalu berkata, “kemana?”
Tiada jawab darinya, hanya saja tangannya menunjuk ke arah tepat di depanku. Memang terlihat indah, tapi aku sadar bahwa temanku ini sudah meninggal.
“Tapi kamu sudah meninggal, enam bulan yang lalu aku menghadiri undangan duka itu. Tenanglah di duniamu yang sekarang.” Ujarku kepadanya.
Aku merasakan sakit yang amat di kepalaku. Tak lama dari situ, aku terbangun dari tidur, mendapati tubuhku sudah basah kuyup. Melanjutkan hidup dalam dunia nyata, bukan lagi dalam tidur untuk bermimpi, meskipun dunia nyata lebih kejam daripada itu. Sambil meneguk segelas air putih, aku tetap berusaha menenangkan diriku, duduk di ruang keluarga.
Setelah selesai mandi, aku menceritakan kejadian semalam kepada ibuku. Mulai dari bertemu sosok yang memakai kain kafan, sampai diajak pergi oleh mendiang temanku. Sontak ibu menangis, mendekapku erat seperti tak izinkan aku pergi ke mana-mana. Kubalas dekapan ibu lebih erat, sambil mengucap lembut, “Iyan sayang ibu. Iyan tetap bersama ibu, jangan sedih, bu.”
