Bersembunyi Dalam Diam


Aku ingat tentang masa terindahku. Ketika lebih mementingkan ego daripada harus menghargai orang lain, juga aku pernah menyalahkan seseorang berulang kali. Entah bagaimana rasanya perih yang diderita oleh orang itu. Tapi bisa-bisanya dia yang aku perlakukan demikian itu tetap rendah hati kepadaku. Bahkan dialah yang tetap memberikan senyum terbaiknya di hadapanku tatkala yang lain sibuk menggunjing.

Biadabnya diriku ini, lama sudah aku tahu seseorang yang aku nyatakan salah itu adalah gadis yang aku sayangi. Dan begini ternyata caraku menunjukkan kasih sayang dan membalas rasa sayang itu. Sampai suatu hari gadis itu pergi dengan alasan terbaiknya, pergi meninggalkanku untuk bersama orang lain yang mungkin saja bisa lebih menghargainya. Pada akhir masa terindahku, seseorang itu berkata “Cari saja gadis yang menyayangimu lebih dari aku.”

Elsa Hidayanti, gadis lugu dengan pesona laksana bidadari surga. Gadis dengan tutur lembut, tingkah anggun, pandang teduh, cantik mempesona. Jika kata-kata itu terasa melebih-lebihkan, aku bersumpah, mata serta hatiku tidak sedang berbohong tentang cinta pertamaku itu.

Sejak kepergiannya, aku sama sekali tidak menjalin hubungan dengan siapapun, meski harus kuakui aku sudah berulang kali jatuh hati dengan setiap gadis yang kutemui. Tapi aku meragu, sebab aku tidak bisa jatuh cinta berulang kali kepada gadis selain Elsa. Aku masih ingat jelas ketika dia sendiri berkata sembari tersenyum manis kepadaku “Hal yang paling indah di dunia ini adalah saat kau bisa jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama.” Kini aku membenarkan sendiri perkataan gadis lugu itu.

Sepanjang malam tadi aku tidak tidur. Maksudku hampir benar-benar tidak tidur. Andai saja aku tidak lelah karena menangis semalaman, pastilah aku tidak tidur. Semua itu mengalir begitu saja tanpa paksaan. Halnya dongeng pengantar tidur, ingatan tentang sosok cinta pertamaku yang belum usai- meski kisahku dengannya sudah lama berakhir. Menangis, lelah, dan tertidur seperti anak bayi yang lelah menangis.

Dan mungkin benar yang dikatakan orang banyak, hanya dengan mimpi, maka kita akan menjamah alam bawah sadar kita sendiri. Ia tahu benar apa yang sebenarnya

kita inginkan, kita impikan di setiap hembus nafas. Dan malam tadi telah membuktikan padaku. Melalui tidur nyenyak malam tadi, aku menjamah masa terindahku yang hilang dalam kenyataan. Di tiap hela nafas aku merindukanmu, andai kau juga sudi memimpikanku.

Dalam mimpi, Elsa tersenyum hangat padaku, tampak sepenuhnya percaya. Mungkin jika tidurku lebih lama lagi – jika tidak ibuku membangunkan lebih awal agar aku bergegas ke kampus, pastilah dia mengatakan “Tetaplah bertahan untukku, meski hari esok adalah misteri, setidaknya berjanjilah hari ini kau tetap bersamaku”. Aku berani bertaruh untuk mimpiku malam tadi, andai saja ibuku sibuk memasak atau mentari enggan terbit lebih cepat.

“Iyan, cepatlah mandi” Pekik ibu dari luar kamar.

”Iya bu... Sebentar lagi” Sahutku agak malas.

“Ingat, mandimu lama, seperti wanita”

“Ibu mah.....” Rengekku, agar ibu mengecilkan sedikit suaranya. Akan habislah aku jika Arif–teman dekat yang selalu menjemput sebelum berangkat ke kampus, mendengarnya dan membeberkan semua ucap ibu kepada teman-teman yang lain.

Tempat tidur kubiarkan begitu saja, berantakan seperti habislah terjadi pergulatan hebat di atasnya. Atau mungkin bahkan tempat ternyamanku- tempat tidurku sendiri, tahu aku memimpikannya, cinta pertamaku yang belum usai.

Segera kuambil handuk dan berlari menuruni dua anak tangga kecil yang menyekat ruang keluarga serta langsung menghantarkanku ke kamar mandi. Mandi kupercepat dari biasanya, khawatir jika Arif datang dan menungguku. Karena siapalah yang sudi menunggu, kecuali aku yang telah melakukannya berulang kali.

Saat dua tahun kuhabiskan hanya untuk menanti jawaban atas hatinya yang belum pasti menyayangiku. Atau setelah dia sempat berkata “aku menyayangimu” selama dua tahun lebih, pun setelah berakhirnya perasaanya terhadapku yang sudah dua tahun lalu. Lama sekali ingatku, tapi semakin lama, aku semakin mengerti akan arti hadirnya, cinta pertamaku. Menunggu? Siapa yang sudi?.

“Haruskah kumulai lagi kegilaan yang pernah aku coba dan pernah kuakhiri sendiri -mencintamu bukanlah pilihan, ini?” Pikirku singkat, sembari kukenakan pakaian yang sudah kupersiapkan lama.

Masih berlama-lama di depan cermin untuk mempersiapkan belahan rambut terbaikku. Membongkar-pasang senyum termanisku. Bukan untuk seorang wanita baru, bukan, bukan untuk itu. Sebab aku tidak pernah merasa usai dengan cinta pertamaku. Sungguh, mungkin itu hanya perasaannya saja, tapi tidak dengan perasaanku. Tiba-tiba kudengar suara Arif memanggil dari depan rumah. Sengaja tak kusahut panggilannya, dan langsung bergegas menemuinya di depan, untuk segera berangkat.

***

Sesampainya di kampus, aku bergegas masuk ke dalam kelas, khawatir jika aku telat maka hilanglah kesempatanku mengikuti ujian hari ini. Meninggalkan Arif yang sibuk berbaur dengan teman-teman sekelasnya. Karena memang kami tidaklah sekelas.

Terlihat keadaan kelasku sudah ramai dari kejauhan. Kupercepat langkah untuk sampai lebih dahulu, mendahului pengawas ujian yang juga datang dari arah yang berbeda, namun tetap satu tujuan, kelas itu, kelas yang sama dengan yang aku tuju. Sambil tanganku sibuk mencari kartu peserta ujian di dalam tas, yang kuharap aku tidak lupa membawanya.

Sampai akhirnya aku memasuki keramaian tadi, ya keramaian kelas. Bising, penuh dengan canda tawa. Ada yang sibuk belajar, ada yang sibuk bertengkar, bahkan mungkin ada yang sibuk menyesali kenapa hari ini harus ujian. Masing-masing dari mereka duduk di kursinya masing-masing. Hanya tersisa dua kursi kosong di kelas ini. Pada sisi kanan depan kelas, dan satu lagi berada tepat di depan kursi kosong itu. Benar saja, mungkin aku harus duduk berhadapan langsung dengan pengawas ujian. Kutatap ramah teman-teman yang lain, sambil berjalan menuju kursi yang aku yakini disisakan mereka untukku.

Akhirnya, aku duduk juga. Dan di susul masuknya pengawas ke dalam kelas, sambil menjinjing sebuah amplop besar berwarna cokelat.“Di amplop ini hanya lembar kosong untuk menulis, tidak lebih” Ujar pengawas tadi lalu mengangkat amplop cokelat itu sesampainya ia pada kursi tepat di depanku.

“Lalu apa yang harus di tulis Pak..?” Sahut sorai teman-teman hampir terdengar berbarengan, kecuali aku. Lebih baik diam, ya itu jauh lebih baik bagiku, diam.

“Tulislah pengalaman cinta pertama kalian. Pasti semua pernah merasakan, ini rasa yang sangat manusiawi” Timpalnya sambil membagikan lembar kosong untuk kami menulis.

“Hal gila macam apa sebenarnya ini?” Tanyaku dalam hati. Lalu mataku menjelajah setiap sisi kelas, hingga kudapati masing-masing temanku sibuk dengan rasa mereka masing-masing. Ada yang memejamkan mata, meminta kembali rasa cinta yang mungkin sempat dilupakan itu. Ada yang tersenyum manis, dan beberapa ada yang menggantung sendu di sudut matanya, mungkin mereka di persalahkan cinta atau mungkin menyalahkan cinta.

Ini sungguh menggelikan. Mereka sibuk menyusuri jejak-jejak ingatan cinta pertama mereka sendiri. Tapi tidak untukku, aku baru semalaman tadi merasakan cinta pertamaku kembali. Anehnya lagi, setelah malam tadi aku bermimpi tentang cinta pertamaku, paginya aku harus bercerita tentang cinta pertama. Sebenarnya apa yang sibuk di diskusikan Tuhan dengan pengawas ujian ini semalam?

Siapa yang mempercayai ini semua? Siapa yang pernah berpikir, lalu mengaitkan mimpi dengan kenyataan di pagi harinya? Tapi ini terjadi padaku hari ini.

Tiba-tiba saja ada yang mengganggu pengelihatan sebelah kananku, lalu kucoba menyapu kelopak mata kanan menggunakan ujung jari-jari tangan kananku. Aku semakin terpaku, ketika mendapati sehelai bulu mata di ujung jemariku. Aku ingat apa yang dulu dikatakan oleh ibu, jika bulu mata kanan ada yang jatuh berarti ada seseorang yang sedang merindukanmu. Entahlah.

Kejadian hari ini sungguh membingungkan. Aku masih memikirkan mimpi semalam, juga cerita yang harus kutulis pada ujian kali ini, kenapa keduannya harus tentang cinta pertama? Sambil tetap membiarkan sehelai bulu mata itu berada di ujung jemariku.

“Mungkin orang yang merindukanmu adalah cinta pertamamu itu” Tiba-tiba saja ada yang berbicara seperti itu tepat di belakangku. Dan saat kumenoleh ternyata itu si pengawas ujian. Sambil tetap menggantung senyum pada bibirnya itu, dia sodorkan

lembar kosong jatahku untuk menulis. Aku membalasnya dengan senyuman dan berterimakasih atas lembar kosong yang terakhir diberikan kepadaku ini.

Firasatku seolah dibenarkan oleh pengawas ini. Tetapi aku tetap tidak tahu apa yang harus aku tulis. Aku selalu mengingat cinta pertamaku, tapi sedikitpun aku belum pernah bercerita tentang dia, sekalipun dalam tulisan. Jadi kubiarkan lembar kosong ini tetap kosong, hanya tertulis nama dan nomor pengenalku saja. Tidak lebih, karena aku tidak tahu cara menceritakannya.

Cukup lama aku duduk di tengah keramaian ini, yang perlahan-lahan meninggalkan ruangan kelas ujian satu per satu. Kupikir, aku haruslah menuliskan apa saja yang aku ketahui tentang cinta pertamaku. Aku takut tidak cukup banyak waktu untuk bercerita, atau darimana aku harus mulai bercerita. Dari awal pertemuan, atau perpisahan yang juga indah itu?

“Apa dirimu sudah gila sehingga tidak pernah mempunyai cinta? Bahkan yang pertama?” Tanya seorang teman yang mendapati lembaranku masih kosong. “Apa dulu kau sia-siakan cinta pertamamu? Atau... kau yang disia-siakan?” Timpalnya lagi, sambil tertawa mengejekku.

“Kau tahu apa? Biarkan aku dengan cintaku sendiri, aku pun punya caraku sendiri untuk memulai atau bahkan mengakhiri cintaku, terimakasih.” Jawabku singkat sedikit kesal.

Aku sempat geram dan berpikir untuk menghampiri temanku tadi. Ingin kuberi tahu dia, bahwa aku jauh lebih mengenal cintaku sendiri daripada dirinya. Akan kusuruh dia tutup mulut, atau kupaksa dirinya untuk meninggalkanku berdua saja dengan kertas kosongku.

Kutolehkan pengelihatanku ke teman di belakang, kulihat kertasnya tak lagi kosong, dia hampir selesai dengan pekerjaan cinta pertamanya. Sedang aku belum melulai apapun untuk bercerita. Benar saja, hal tersulit adalah ketika kita memulai untuk melakukan sesuatu.

Apa aku juga harus melakukan seperti apa yang dilakukan teman-temanku. Memejamkan mata seperti orang yang penuh harap, sembari berharap akan cinta pertamaku bercerita di dalam batin?

Baiklah aku menyerah. Jika itu cara satu-satunya untuk mulai bercerita, akan aku lakukan apa yang dilakukan mereka sebelumnya.

Mulai kupejamkan kedua mataku. Mencoba menjamah tempat terindahku seperti malam tadi. Menyusuri tiap bait ingatanku. Sampai akhirnya kutemukan cinta untuk cinta yang akan kutuliskan. Dan memang ini tidak sia-sia, aku terhanyut dalam haru pikirku sendiri.

Ketika aku membuka mata, aku menemukan diriku hanya seorang diri di kelas ini. Aku sudah melihat sekeliling, dan memang hanya diriku seorang. Juga tanpa pengawas, kecuali tumpukan lembar cerita milik teman-teman yang berada di meja pengawas. Biarlah, mungkin dia membiarkanku untuk menulis dengan keadaan yang benar-benar nyaman.

Kucoba untuk menulis, mempercayai semuanya pada diriku sendiri. Bukankah aku memang tokoh utama dalam cerita hidupku sendiri. Pasti mudah sekali untuk menceritakan apa yang aku lalui sendiri, meskipun aku menjalaninya bersamamu cinta pertama. Lalu aku menulisnya.

“Ia gadis mungil yang mencuri hatiku sejak jumpa pertama kali. Maksudku di akhir jumpa dengannya di waktu yang pertama. Tidak kawan, kamu salah sangka. Dia –cinta pertamaku, tidaklah cantik seperti cinta pertamamu, mungkin. Cukuplah senyum manisnya menjadi alasan kenapa aku begitu mencintainya, ya, karena itulah alasannya. Memang alasan itu aneh, dan tidak masuk akal. Karena itulah yang dibutuhkan alasan, aneh dan tidak masuk akal. Lebih-lebih senyuman seorang wanita, aneh, tidak masuk akal, seperti sihir. Bisa jadi siang ini wanita itu tersenyum kepadamu, dan kamu pasti mengingatnya sepanjang malam.”

Kurang lebih kutuliskan seperti itu di lembaran kosong tadi. Hingga akhirnya kurasa cukup ceritaku tentang cinta pertamaku di hari ini. Bukan lisanku yang bercerita, tapi tarian tinta. Sebab lisanku akan mudah dipatahkan, seperti halnya harapan yang sempat kuungkapkan.

Lalu kutinggalkan lembar ceritaku pada tumpukan lembar cerita teman lainnya yang ada tepat di meja pengawas. Aku masih mengingat jelas, jadi kutuliskan “Saat kedua mataku menangkapmu dalam keramaian, saat ingatanku menangkapmu dalam diam, atau saat diamana lisanku menghadirkanmu dalam doa, yakinlah aku tidak sempat berbohong untuk mulai mencintaimu, cinta pertama.” Lalu kuberanjak pergi meninggalkan kelas, dan “ujian” hari ini tetap tentang cinta pertama. Harus kuakui dalam diam, aku masih mencintaimu, cinta pertamaku.



You may like these posts

8 Comments

  1. masyithaputri.blogspot.com
    (y)
    good
    • Admin
      Terimakasih mbak Sita ^_^
  2. Unknown
    Post pertama kok gak bisa di komeng ya?

    www.gorigotri.blogspot.com
    • Admin
      postingan pertama yang mana bang?
  3. Unknown
    Posting : Rose : bidadari yang ...... (Lupa judulnya)

    Oh iya... Blogmu kok gak ada tombol ngikutinnya bro?
    • Admin
      Bisa kok bang di koment :D

      Ada bang, di bawah :D
  4. Unknown
    apa yang harus aku tulis? ini bukan berdasar kisah nyata bukan? "terlalu pendek".
    • Admin
      Kisah nyata kok, Mbak. Dibuat flas aja :) Terima kasih sudah mau berkunjung.