Rindu Yang Tak Sampai
Di sini. Dan harus ku akui, pernah kuungkap rindu dengan tak sempat mengenal malu. Meski tak pernah sudi dirimu mendengarnya. Mungkin dirimu mengenalnya sebagai tipu daya. Terserahlah...
Masih sempat kupandangi setiap dinding-dinding harap yang hancur itu. Pelangi penuhi jejak sorot mata indahmu. Bak rembulan malam yang tenggelam terganti fajar. Burung-burung kecil cumbui kelopak mawar mekar merekah. Silahkan kini dirimu tetp dustai itu, rindu yang sempat sama-sama kita jejaki-katakan begitu.
Sebait rindu itu kembali lagi. Mengertikah dirimu? Jika tidak sempat dustai lagi, biarkan angan menri-nari hingga letih dirimu dapati pda relung hati yang mati. Betapa sucinya rindu yang selalu tertutup dusta, manis.
Masih sempat kupandangi setiap dinding-dinding harap yang hancur itu. Pelangi penuhi jejak sorot mata indahmu. Bak rembulan malam yang tenggelam terganti fajar. Burung-burung kecil cumbui kelopak mawar mekar merekah. Silahkan kini dirimu tetp dustai itu, rindu yang sempat sama-sama kita jejaki-katakan begitu.
Sebait rindu itu kembali lagi. Mengertikah dirimu? Jika tidak sempat dustai lagi, biarkan angan menri-nari hingga letih dirimu dapati pda relung hati yang mati. Betapa sucinya rindu yang selalu tertutup dusta, manis.
