1. Rosé : Dirimu



Sebenarnya aku tidak merencanakan sesuatu, pun berdoa agar aku bertemu atau setidaknya memandang wajah Rosé sedikitpun. Itu sebabnya aku begitu terkejut ketika menyadari keberadaannya di hadapanku, meski hanya berjarak lebih dari sepuluh kaki. Jantungku terasa berdetak lebih cepat daripada berputarnya arloji yang kukenakan.

Dia... si pemilik senyum manis yang belum pernah tersenyum sedikitpun kepadaku. Aku hanya mengetahuinya ketika diam-diam kuperhatikan dari balik kaca-kaca jendela yang nampak gelap dari luar. Pasti dia tidak menyadari itu. Pun mata besarnya yang selalu berbinar laksana bintang kejora di langit timur malam.

Berulang kali aku mencuri pandangan ke arahnya, meski hanya mendapat sepasang mata indah. Berulang kali aku berpapasan dengannya, tapi sebanyak itupun aku harus tertunduk malu. Ya... aku dikalahkan dengan sesuatu yang tidak bisa aku lihat, rasa malu.

Ini bermula sejak akhir tahun lalu. Saat itu aku menemani sahabat-sahabatku untuk melihat pementasan 'gadis berjilbab'. Sambil menggenggam setangkai bunga kertas aku menanti kesempatan untuk memberikan kepada salah seorang di panggung pementasan. Tapi aku sedikit kecewa setelah salah seorang sahabatku tidak dinyatakan lolos oleh juri. "Biarlah tak mengapa, toh itu keputusan juri." pikirku. Lalu aku pergi, meninggalkan semuanya. Kubiarkan bunga kertas itu berada disana, pada bangku barisan depan yang sempat aku duduki.

Sekarang aku baru sadar. Salah seorang di sana; di panggung pementasan, adalah Rosé. Juga setangkai bunga Rosé kertas yang kutinggalkan. Biarlah Rosé tetap menjadi Rosé. Tanpa usikku, sebab tangkainya tetap berduri.



You may like these posts