2. Initial F : Gerangan Apa Matamu Menangis?
Waktu berlalu saling mendahului. Maksudku saat kau ada, waktuku seakan berlalu cepat. Hingga tak sanggup nikmati saat-saat kita bersama. Sebenarnya ingin aku berlama-lama bersama. Bercengkerama cipta drama.
Potret bisu itu kulihat berulang kali. Matamu tetap sembunyikan tangis, ada apa? Begitu banyak rahasia tersembunyi. Tak kau ungkap dalam ucap bunyi. Sebaliknya tersaji manis dalam setiap doa di waktu sunyi.
Aku benar-benar salah tingkah. Tersandung tak perhatikan langkah. Terucapmu tatkala sujudku menyentuh sajadah. Sungguh ini tak mudah, kagumimu dalam setiap nostalgia luka perih tuk percayakan wanita.
Hingga air mata itu menganak sungai. Alirnya deras gambarkan jelas perih di hatimu. Maafku terselip pada lidahku yang kaku. Sesal menguasai diri, aku tak sanggup berbuat banyak. Hanya ucap dalam harap... derap langkah yang selalu kunanti... hadirmu dalam keramaian yang mendadak sepi.
Aku tak terbiasa menutup mata sebelum kantuk. Tapi lain hal kali ini, aku ingin menutup mata, sungguh karena tak ingin melihat tangismu terulang. Untuk tebus setiap helai emosi terbuang, sampai-sampainya kau rela begitu? Itu perih... aku tahu itu perih.
Gerangan apa? Matamu kembali gambarkan sendu. Kuingat nyanyian syahdu bersuara merdu. "Engkau bukanlah segalanyaku...," bukan tempat tuk hentikan setiap harap-harap itu, bukan? Teruslah kau tersenyum jangan kau meredup, kau yang lakukan semua hingga aku berniat tuk benahi hidup.
