5. Rosé : Dreamcatcher
Baru kali ini aku benar-benar berada sangat dekat dengan Rosé. Jangan tanya hatiku, sudah pasti berdebar tak menentu. Apa lagi saat senyum manis itu diulang beberapa kali pada wajahnya yang teduh. Ah... aku hampir gila.
Tak lagi senyum itu yang membuatku penasaran. Sebuah hiasan aneh mengalung tepat dilehernya. Tali dengan lingkarang yang dikelilingi hiasan.
"Apa itu kak?"
"Ini Dreamcatcher. Baguskan?"
"Bagus? itu apa sebenarnya, kak?" tanyaku semakin keheranan.
"Menurut legenda bangsa Indian, Dreamcatcher itu punya banyak arti dan biasanya digunakan untuk menangkap mimpi-mimpi yang bagus. Sedangkan untuk mimpi buruk dipercaya akan terjebak di tali temalinya lalu hilang beserta terbitnya matahari" ucapnya sembari tersenyum manis. "Beberapa hari belakangan ini, aku selalu bermimpi buruk, dik. jadi aku memakainya."
"Bagus sih. Mimpi...? Buruk...?"
"Iya, dik. Sepertinya sesosok bayang-bayang hitam-besar, mengejarku dalam terangnya cahaya."
Kalau Rosé mengatakan terang, harusnya bayangan tidak akan ada tanpa suatu benda. Mungkin itu bayangan dirinya sendiri yang tidak dia sadari, pikirku.
"Kamu takut dikejar bayanganmu sendiri, kak?" desakku meminta kejelasan.
"Bukan. Bukan seperti itu," dahinya mengerut, "itu hanya sosok bayangan, tanpa...." kata-katanya berhenti seketika, dipandangnya ruang kosong disamping kami berdiri. Nampak gelap meski di siang hari. Mata yang sebelumnya seperti bintang timur itu menangis, tak berkedip, menatap kosong sesuatu yang ada namun tak terlihat.
"Kak! Kak Rosé!" ucapku ketakutan, tidak biasa aku begini.
"Pergi!" pintanya sambil memekik. "Aku hanya tidak ingin diganggu."
Aku menyadari jarak aku dan Rosé semakin jauh. Padahal kami sama-sama diam; aku diam menatap keheranan dan Rosé menangis dipangkuannya sendiri kini.
"Rosé!!!"
Aku merasa dihempas dari tempat berpijak. Hingga terkubur dalam di tempat semula berawal.
Menatap remang ruang. Hanya tersinari dari celah-celah lubang. Aku semakin membuka mata, ini semua mimpi.
