6. Rosé : Berkas Bekas Senyum Seutas Indah Kau Kemas
Masih kuingat jelas saat Rosé tersenyum lepas. Sangat dekat, seakan melekat kuat pada pelupuk mataku. Sejak itu, tersimpanlah rapat rahasia yang tak mampu kuucapkan, baik lisan maupun tulisan.
Hari sudah berganti. Fajar muncul lebih awal dari biasanya-atau aku yang tidur terlalu nyenyak hingga tak sadar. Sama seperti kemarin, bangun dengan ingatan yang tidak biasa ... mungkin itu mimpi, pikirku. Tapi, bayang-bayang yang tersisa begitu jelas, tidak mungkin itu hanya mimpi. Getar hati berdebar tumbuhkan harap-harap seperti ingin nikmati senyum Rosé lebih lama lagi.
Aku membiarkan anganku semakin jatuh jauh ke dalam khayal, menyadari tidak ada batas puja dalam kata; biarkanlah aku yang merasa hingga tak kuasa. Kemarin aku masih berdiri beralas bumi Tuhan yang luas, dan tepat di hadapan Rosé. Dia tersenyum rapih, manis.
Lain hal yang Rosé lakukan kali ini. Kami benar-benar saling terperangkap dalam satu waktu. Pandangan kami saling menatap satu sama lain. Tapi, senyum yang selalu ada selama ini tidak lagi digambarnya. Malah terlihat asik sendiri dengan telepon genggamnya yang dia genggam.
"Kak...." Ucapku ragu.
Namun Rosé berlalu tanpa senyum atau ucap sepatah pun. Hatiku serasa terpatah tiba-tiba. Kuraba-raba ingatan tentang Rosé, tidak ... tidak seperti ini. Bahkan kemarin masih sempat kudengar tawa kecil renyah menggoda imbangi senyum manisnya.
"Ada apa ini Tuhan? Lupakah Kau atas mimpiku semalam? Bukankan itu artinya aku terlalu memikirkannya."
Tidak ada bahasa Tuhan yang aku mengerti. Aku limbung, hingga aku tersadar satu yang selalu aku lupa, syukur. Tak terucap puji saat itu, baik untuk pemilik senyum atau Dia yang menciptakan. Rosé hanya membuat diriku terbang jauh. Dan kali ini dia sadarkanku untuk bersyukur kepada Tuhan atas senyumnya-Rosé-pada setiap kesempatan. Baik dalam kesempatan yang tak pernah terencana, dan kata yang tak sempat diucapkan dalam kesempatan.
