7. Rosé : Pesan Rindu




Ternyata lama sudah aku sembunyi dalam kesendirian. Bukan tak miliki keberanian, bukan, bukan itu. Tapi, aku lebih biarkan seeorang atau bahkan Rosé sendiri larut dalam sebuah keputusan yang dipilihnya. Sungguh ku tak mengerti, jujur aku tak ingin miliki.

Cinta tidak seperti itu. Tak miliki hasrat tuk memiliki, hanya aku punya alasan untuk tetap berdiri diam sambil nikmati indah senyum manismu yang berseri. Tidak, tidak, hasrat memiliki hanya milik ego. Dan ketika terjadi perselisihan di dalam kebersamaan, cintalah yang dipersalahkan. Tapi ... tak lebih, yang aku tahu takdir cinta takkan berubah.

Rosé berdiri membelakangiku sebelum aku berhenti berpikir akan cinta. Yakin saja, dia takkan menyadari, takkan perhatikan hanya berlalu. Tiada tatapan itu, tatapan yang kurindu. Senyuman hangat yang kuingat menjadi candu, cumbui malam-malamku yang kelabu. Detik kosong merangkai waktu, harus berapa banyak-kali kuungkap rindu?

Sekarang aku punya alasan untuk ungkap itu. Rahasia yang selama ini kupendam rapat. Yang tak sempat kuungkap dalam detik kebahagiaan berlalu cepat. Atau mungkin bahkan tak tepat, tapi ... apakah kau tercipta untukku?

Saat itu sudah terlalu siang untuk memulai awal perkuliahan. Jadi aku segera memasuki ruangan sebelum seorang dosen punya sebuah alasan untuk melarangku ikut kuliahnya kali ini.

"Kenapa tatapanmu kosong? Apa yang membuatmu lebih baik?" Tanya dosen itu di hadapanku.

"Baiknya tak perlu miliki, jika pergi menjadi alasan kuat untuk akhiri," aku hanya memandang jauh kebelakang dosen itu, pada luar jendela bersekat kaca. Aku masih rindu.



You may like these posts