8. Rosé : Sebuah Tanya




Dikerutkan keningnya yang masih kencang pada usia belia. Sambil wajahnya menengadah ke langit luas, seolah mencerca Tuhan yang membiarkan gambar pada langit tetap cerah tapi tidak untuk hatinya. Rosé duduk di bawah rindangnya pohon, sedang aku sibuk memperhatikannya dari dalam kelas.

Terlambat untuk berdusta. Ternyata memalsukan rasa dalam sebuah diam memanglah mudah, tapi tidak saat memandang, meski dari jauh sekalipun. Seandainya, bisa aku ulang kembali saat bertemu pertama kali. Aku tak inginkan rasa. Sayangnya aku tidak bisa mengerti. Tentang apa yang sudah ku rencanakan jauh hari namun tak sedikitpun hasil. Malah aku terbiasa merasa siksa cinta dari seseorang yang tidak biasa aku temui; Rosé.

Aku berjalan mendekati Rosé. Menemaninya menikmati harum Pinus pagi hari.
Dari kejauhan Rosé terlihat menggantung senyum, tidak lagi ada kerut pada dahinya. Malah terlihat manis. Tapi anehnya perempuan selalu begitu, tak ingin dipuji saat ada yang memuji, lalu mencari pujian saat tidak ada yang memuji. Sudahlah....

"Sengaja menemui aku ya, Dik?" Rosé tidak melepas senyumnya.

"Tidak Kak. Anggaplah ini rencana Tuhan di luar kuasa manusia."

"Jadi begitu...." Malah dijatuhkan pandanganya ke segala arah.

Matanya sayu, seperti sedang paksakan terjaga dalam tidur. Tidak lagi senyum tadi, yang baru dihapus Rosé beberapa saat lalu. Seperti sedang mencari alasan untuk tetap bersedih.

"Kak ... ingin ke mana?" Tanyaku.

Namun Rosé berlalu. Dan aku menggantikannya menikmati sendirian wangi Pinus sambil menatap langit dengan dahi yang sengaja kukerutkan.



You may like these posts