Gadis Pesek Dengan Senyum Semanis Kopi Kantin : Episode Terakhir




Apa yang terjadi tak lebih daripada doa-doa yang tiap detik kau titipkan dalam harap.
Katakan padaku, seberapa jauh kau akan pergi? Seberapa dalam kau kuburkan mimpi-mimpi? Sungguhkah kau rela dengan itu semua?

Ingatanku kembali memutar jauh kebelakang. Di mana saat kau tersenyum manis sambil merengek, meminta segelas kopiku. Sementara belum lama kopimu kau habiskan; menyisakan gelas kosong, kecuali ampasnya yang basah.

Aku takut bukan kepalang, setelah salah seorang teman berkata, "... hari ini dia sudah mulai berangkat." Saat itu yang terlintas di benakku adalah semua kesalahanku terhadapmu. Seperti saat-saat aku mengagumi, merelakan kau bersama orang lain.

Sebenarnya di mana tawa renyahmu seperti hari kemarin? Mengapa hari-harimu sungguh terlihat membosankan? Dulu kau sempat menangis, dan aku melihatnya. Aku hanya meminta maaf serta berterimakasih atas kesempatan yang kau berikan, setidaknya aku salah satu teman terbaikmu, kan?

Hal terperih adalah 'kau' miliki rasa yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, selain dirimu sendiri. Mungkin aku sudah lama hidup dalam duniaku sendiri, sementara orang lain baru akan mulai memahami, aku akan sudah jauh pergi. Ini bukan lagi tentang cinta, aku sudah lama jelaskan kepadamu, dan orang lain tidak akan mengerti saat kita saling tertawa, bertukar cerita.

Kau adalah pembicara yang baik, maka dari itu aku adalah pendengar. Aku adalah penyusun kalimat, maka kau harus menjadi pembaca yang budiman.

Terjebak dalam sebuah kenangan bukanlah mauku, aku tahu semua tidak akan mau untuk itu. Tapi lagi-lagi hanyalah itu yang terjadi, setelah pembicaraan tentangmu ramai menjejal telinga, kau akan pergi.
***
Sore ini kau menangis. Merusak Dreamcatcher berbentuk Burung Hantu yang mengalung di lehermu. Matanya lepas satu, aku memungutnya, bermaksud memberikan kepadamu.

"Sudah.... Kau hanya menyakiti dirimu sendiri." Kataku, sambil tanganku memberikan kalung mimpi itu.

"Tidak apa-apa ... aku hanya butuh waktu untuk sendiri."

"Tidak dengan cara seperti ini!" Salahku adalah berkata dengan suara keras, lagi dan lagi.

Seketika matamu menyusup masuk ke dalam mataku. Menyisakan bayang-bayang yang kuingat selalu. Tangismu terhenti, tapi jerit hatimu mampu kudengar tanpa ucap yang berkelanjutan.

Aku tidak mampu menahanmu lebih lama. Tapi ingat kita pernah bersama-sama. Aku dan mereka-yang lainnya, yang saling membicarakan mimpi-mimpi.


You may like these posts