Balas Dendam Terbaik
"Ketika dendam mulai membatu...," kata Soe Hok Gie. "Mungkin ini masalah
ego," bicara Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino hampir
berbarengan. "Mulutku terkunci tak mengucap sepatah katapun. Dalam hati
kulaknati setiap tingkahmu," lengkap Yusuf As Siba'i.
Pukul 07:17 WIB.
Aku naik angkot menuju kampus, duduk samping supir. Sepanjang jalan dia memaki setiap pengendara yang menghalangi laju angkotnya. "Mudah sekali lidah kita memaki," batinku.
"Stop, Bang!!!" ujar seorang penumpang di belakang.
Aku lihat seorang gadis membayar dengan uang pecahan seribu rupiah sebanyak tiga lembar. Pun senyum manis yang dia bagi seraya berkata pada supir, "Terima kasih, bang."
"Mbak! Ini kurang! BBM-kan sudah naik, ongkosnya jadi empat ribu untuk umum. Anak sekolah baru tiga ribu!!!" kedua mata supir itu hampir keluar. Jikalau anjing setinggi pinggang orang dewasa milik tetanggaku melihat, pastilah liurnya membanjir.
Kejam sekali dunia ini. Harga BBM delapan ribu lima ratus, lalu setiap penumpang harus menanggung hampir setengahnya. Pantaslah sedikit sekali orang yang berpergian naik angkot.
Kita yang menanam kebencian itu.
Pukul 07:30 WIB.
Saat menuju ke ruang kelas ada yang berbicara kepadaku, "Mandi dulu sih. Terus jangan pakai celana sobek," diakhirinya dengan tawa yang mengejek.
"Yang aku gunakan untuk mencari ilmu bukan penampilan Mas," jelasku singkat dengan tetap melangkahkan kaki.
Aku jarang tidur hingga mata nampak sayu seperti orang tidak mandi. Sedang celana sobek di bagian tumit. tapi ini hanya ekspresi kebebasan untuk berpikir. Aku sudah terlalu nyaman dengan penampilan seperti ini.
Lagi pula, mudah sekali mengkoreksi orang lain habis-habisan. Tapi kita sampai sekarang lupa untuk berbuat kebaikkan di setiap sendi kehidupan. Dan aku butuh koreksi habis-habisan itu untuk tetap berbuat baik.
Kita yang menanam kebencian itu.
Pukul 14.02 WIB.
Kulihat temanku menyendiri, nampak nyaman bersandar di kursinya. Aneh, matanya berbinar menahan kesedihan.
"Kenapa sedih?"
"Jangan sok tahu!" tegasnya.
"Jangan sok gak sedih," timpalku.
"Ish. Sampai kapan kita hidup?"
"Sampai Allah berkata tiba waktunya kita pulang. Jadi bersabarlah dengan jangan membenci hidupmu," aku sempat mendengar kata ini dari temanku, namanya Elsa Hidayanti.
Kita yang menanam kebencian itu. Hingga mengakar, pengaruhi setiap tindakkan. Aku masih mengingat perkataan Nelson Mandela, "Kenapa saya tidak punya kebencian? Itu karena jika saya masih punya kebencian berarti saya masih terpenjara". Pun dosenku pernah berkata, "Seratus kebaikan belum memperlihatkan kita berbuat baik. Tapi satu saja kebencian sudah menunjukkan perilaku buruk kita."
Kita pasti pernah menanam kebencian. Tapi jangan pupuk itu hingga tumbuh subur. Balas dendam terbaik dari setiap dendam yang berubah menjadi kebencian adalah dengan tidak membiarkan orang lain membenci kita, dan jangan biasakan membenci orang lain.
Pukul 07:17 WIB.
Aku naik angkot menuju kampus, duduk samping supir. Sepanjang jalan dia memaki setiap pengendara yang menghalangi laju angkotnya. "Mudah sekali lidah kita memaki," batinku.
"Stop, Bang!!!" ujar seorang penumpang di belakang.
Aku lihat seorang gadis membayar dengan uang pecahan seribu rupiah sebanyak tiga lembar. Pun senyum manis yang dia bagi seraya berkata pada supir, "Terima kasih, bang."
"Mbak! Ini kurang! BBM-kan sudah naik, ongkosnya jadi empat ribu untuk umum. Anak sekolah baru tiga ribu!!!" kedua mata supir itu hampir keluar. Jikalau anjing setinggi pinggang orang dewasa milik tetanggaku melihat, pastilah liurnya membanjir.
Kejam sekali dunia ini. Harga BBM delapan ribu lima ratus, lalu setiap penumpang harus menanggung hampir setengahnya. Pantaslah sedikit sekali orang yang berpergian naik angkot.
Kita yang menanam kebencian itu.
Pukul 07:30 WIB.
Saat menuju ke ruang kelas ada yang berbicara kepadaku, "Mandi dulu sih. Terus jangan pakai celana sobek," diakhirinya dengan tawa yang mengejek.
"Yang aku gunakan untuk mencari ilmu bukan penampilan Mas," jelasku singkat dengan tetap melangkahkan kaki.
Aku jarang tidur hingga mata nampak sayu seperti orang tidak mandi. Sedang celana sobek di bagian tumit. tapi ini hanya ekspresi kebebasan untuk berpikir. Aku sudah terlalu nyaman dengan penampilan seperti ini.
Lagi pula, mudah sekali mengkoreksi orang lain habis-habisan. Tapi kita sampai sekarang lupa untuk berbuat kebaikkan di setiap sendi kehidupan. Dan aku butuh koreksi habis-habisan itu untuk tetap berbuat baik.
Kita yang menanam kebencian itu.
Pukul 14.02 WIB.
Kulihat temanku menyendiri, nampak nyaman bersandar di kursinya. Aneh, matanya berbinar menahan kesedihan.
"Kenapa sedih?"
"Jangan sok tahu!" tegasnya.
"Jangan sok gak sedih," timpalku.
"Ish. Sampai kapan kita hidup?"
"Sampai Allah berkata tiba waktunya kita pulang. Jadi bersabarlah dengan jangan membenci hidupmu," aku sempat mendengar kata ini dari temanku, namanya Elsa Hidayanti.
Kita yang menanam kebencian itu. Hingga mengakar, pengaruhi setiap tindakkan. Aku masih mengingat perkataan Nelson Mandela, "Kenapa saya tidak punya kebencian? Itu karena jika saya masih punya kebencian berarti saya masih terpenjara". Pun dosenku pernah berkata, "Seratus kebaikan belum memperlihatkan kita berbuat baik. Tapi satu saja kebencian sudah menunjukkan perilaku buruk kita."
Kita pasti pernah menanam kebencian. Tapi jangan pupuk itu hingga tumbuh subur. Balas dendam terbaik dari setiap dendam yang berubah menjadi kebencian adalah dengan tidak membiarkan orang lain membenci kita, dan jangan biasakan membenci orang lain.
