Berpayung Gerimis
Benar sudah temanku berkata, "untuk bahagia kamu tidak butuhkan segalanya. Tapi cari satu saja alasan dari berjuta, lalu kamu akan nikmati sendiri kebahagiaan yang sebenarnya." Awalnya aku tidak mengerti maksud dari ungkapan gila temanku itu. Sampai aku merasakannya sendiri setelah melihat gadis yang sama berulang kali.
Iya... gadis di halte seberang sana, yang menadahkan tangan, menanti redanya hujan. Terlihat menyebalkan, sungguh. Untuk apa mata indahnya sesekali menengadah ke langit? Atau bibirnya merengut karena hujan tak kunjung henti? Juga ia mulai merapal sesuatu yang terhalang hujan. Inikah bahagia itu?
Belum sempat aku mendekat, hujan turun lebih lebat. Mengabur pandanganku, deras hujan menyekat. Jadi cukuplah pandanginya dari halte berseberangan di mana aku bertempat. Dahulu, sempat aku mendengar mitos yang berkembang di kota kecil ini. Tentang lingkar spektrum barisan warna yang biasa disebut pelangi. Itu; pelangi, adalah jembatan yang dilalui bidadari dari kayangan untuk sampai di salah satu sungai dan mandi di sana. Tapi jelas-jelas sekarang bidadari itu ada di seberang, gumamku. Bidadari tak butuhkan pelangi untuk renggut perhatian. Dia bidadariku.
Ini adalah musim penghujan yang indah, setidaknya saat ini. Sampai ada seorang pria membawa payung menghampiri bidadariku. Pasti kekasihnya, batinku.
Tubuhku yang sedari tadi dicumbui dingin kini mendidih. Terang saja, sesaat tadi aku mengagumi gadis itu dan kini mencemburuinya. Ah... sial! Harusnya aku mengenalnya lebih dulu. Mestinya aku yang jadi kekasihnya. Dasar bodoh! Apa yang sebenarnya sedang kucemburui? Mengenalnya pun tidak. Habislah aku terbakar perasaan gila ini.
Hujan tengah lebat. Tapi mereka dengan mesra seberangi derasnya berdua.
Memang menunggu angkutan umum dari halte ini lebih mudah, meski mustahil ada saat seperti ini. Pantaslah mereka menyeberang.
"Mas sih jalannya cepet-cepet, basahkan," keluh gadis manis pada pria itu.
"Makanya jangan manja! Jalan itu yang cepet. Sudah tau lagi ujan!" Perkataan pria itu kasar sekali, juga dengan suara tinggi.
Gadis itu tetap sibuk dengan bagian bawah roknya yang basah, juga ujung jilbabnya. Tak berapa lama melihat ke arahku, memperhatikan kotak asongan yang ada di pangkuan.
"Mas... beli tisu ya untuk keringin jilbabnya." Gadis itu tetap berkata dengan suara yang lembut. Subhanallah.
Mungkin pria itu tidak mendengar. Karena kulihat malah asik dengan telepon genggamnya yang super canggih. Jadi kuhampiri saja mereka. Menyodorkan sebungkus tisu jualanku, "ini mbak."
"Teri-ma ka-sih," gadis itu terbata-bata sembari melirik ke arah pria di sampingnya.
Sebenarnya ada apa ini? Tak habis pikir melihat kejadian ini. Mereka yang dari kejauhan seperti baik-baik saja justru sebaliknya.
"Apa sih!!!" bentak pria itu kepadaku.
"Ini ada tisu buat lap yang kebasahan, Mas. Ada yang lain juga kok," ujarku. Dagangan hari ini pasti laku banyak.
"Enggak-enggak-enggak, Mas!!!" suaranya tetap tinggi. "Ini apa lagi!" tangannya mengambil tisu yang sedang digunakan gadis itu untuk mengelap.
"Jangan Mas," pinta gadis itu memelas.
"Ini berapa!?" Si pria tanyakan tisu padaku.
"Seribuan, Mas. Ada lagi yang mau dibeli?"
Sambil diletakkannya selembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah, dia mengajak gadis itu pergi, "kamu mau ikut gak!?" Tapi gadis itu diam dan terlihat menggeleng. "Ya sudah! Saya duluan," ujar pria berpayung itu pergi menjauh.
Dari kejauhan terlihat pria tadi seperti sedang menelepon. Tak lama sedan putih menghampirinya, pun dia hilang ditelan kendaraan itu. Sedang gadis manis itu tetap menundukkan kepalanya, terlihat sedih.
"Mbak-mbak. Jangan sedih. Masih bisa dapet sembilan bungkus tisu lagi kok."
"Hehehe... bukan tisu kok," dia tertawa. Wajahnya sedikit terlihat riang.
"Kan tadi kekasihmu bayar sepuluh ribu, Mbak. Benerkan, masih sembilan lagi?"
"Iya Mas, terima kasih." Dia berikan senyuman itu kepadaku. "Enggak sembilan juga, Mas. Satu aja." ujarnya lembut.
"Terus gimana ini?" aku heran.
"Sudah, untuk ongkos naik angkot aja. Lagi nunggu angkot juga, kan?"
"Kok mbak tau? Peramal ya?"
Dia tidak membalas pertanyaanku itu. Malah tersenyum sambil menghapus air matanya dengan tisu. "Dia memang kekasihku, Mas. Tapi, benar-benar enggak tau cara menghargai perempuan."
Aku diam saja, tidak ingin ikut campur urusan orang lain.
"Orang yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri, pasti tidak bisa menghargai orang lain. Terus orang yang gak bisa menghargai orang lain, gak pantes dihargai, kan Mas?" Aku tidak mengerti yang dia bicarakan.
"Iya Mbak, mungkin."
"Kok mungkin?" dia bertanya tentang apa yang tidak bisa aku jawab. "Oiya... namamu siapa Mas?"
"Aku Afriyan. Kalau Mbaknya?"
"Disa... Nadisa."
"Nadisa, Mbak?"
"Iya. Panggil aja Disa. Tanpa Mbak ya Mas?"
"Kalau gitu, panggil Afriyan tanpa Mas, ya Mbak?"
Disa tertawa renyah. Tak berapa lama hujan reda, berganti titik gerimis kecil. Tiada lagi payung yang lindungi Disa dari gerimis. Malah gerimis itu sendiri yang temani kami menanti angkutan umum di halte yang sama. Musim penghujan yang indah. Aku tidak mengerti alasan yang lebih membahagiakan daripada ini.
