Gadis Seberang

"I wanna love you, everytimes in my life," sepenggal lagu I'm in Love membuatku termenung dalam kesendirian.

Kulepaskan earphone karena tidak terdengar lagi suara dari kotak musik. Kuhirup napas panjang. Teringat kembali dalam rimba ingatan, tentang riuh canda gadis yang belum lama kukenal. Rambutnya ikal, persis sebahu. Senyum tipis dengan warna bibir pucat kaku. Binar parasnya seakan membakar surga. Tiada dustaku, matanya bak bintang timur.

Baru-baru ini aku menyadari. Begitu mudah ternyata jatuh hati dengan gadis sesempurna itu. Hingga habis akalku untuk mencerna... setiap senyumnya ternilai indah. Ada cinta berlabuh.

Cinta? Cinta tak egois seperti ini. Maksudku, cinta tidak miliki hasrat untuk saling memiliki. Benar... rasa tuk saling memiliki hanya milik ego. Jikapun ada yang saling memiliki karena cinta...
ya itulah cinta yang sebenarnya. Jadi biarkan cinta menemukan jalannya sendiri untuk cinta.

"Mungkin ini bukan kesempatanku," mulut memuntahkan kalimat itu lagi tanpa sadarku.

"Ah... kamu ini kenapa selalu bicara kesempatan?" ucap teman dekat yang tak kusadari kedatangannya.

"Anu... "

"Apa?"

"Ya mungkin ini bukan kesempatanku," jelasku. Kusandarkan tubuhku pada dinding ruang kelas.

"Kesempatan apa? Banyak kesempatan dalam hidup Yan. Jangan nyerah gitu aja dong."

"Iya. Bahkan hidup hanyalah bertaruh kesempatan hingga habislah kesempatan untuk hidup, kan?"

Temanku diam. Memandangku, lalu berkata "Ada apa sih, Yan? Kalau masih anggap aku temenmu, ya cerita."

"Aku meragu."

"Tentang?"

"Aku sebenernya tidaklah tahu cinta itu seperti apa. Tapi, sepertinya hatiku merasakannya."

"Sama cewek? Sudah normal kamu Yan?" lelucon clasic.

"Diamlah!"

"Hubungi dia, Yan. Bagaimana kamu ini."

"Untuk apa? Nanti dia tahu kalau...," belum selesai aku bicara tapi dia merebut ponsel yang kugenggam. "Jangan macem-macem!" ancamku padanya.

"Nih... gitu aja kok repot," dia mengembalikan ponselku. "Aku mau masuk kelas dulu Yan."

Pesan terkirim, "Aku ingin berbicara banyak denganmu." ah sial... kenapa dia tahu kontak gadis manis itu. "Dari mana kamu tahu nomornya!?" suaraku tinggi melihat temanku hampir masuk kelas.

"Jangan bodoh, Yan!!! Saya juga laki-laki. Sudah pasti nomor wanita terakhir yang dihubungi adalah yang istimewa!!! Hahaha," tawanya menyebalkan.

Senja sudah hampir datang. Aku menunggu genap tiga puluh menit. Namun pesan tadi tidak mendapatkan balasan. Sudahlah... ini benar bukan kesempatanku. Bahkan membalas pesan tadipun dia tak sudi.

Tak berapa lama ponselku bergetar, ada panggilan masuk. Perasaan gugup menguasaiku. Harus bilang apa kali ini. Ah... bodoh sekali temanku tadi.

Panggilan itu berhenti. Dibarengi dengan pesan baru, "17:05 Ada apa Yan? Bicara tentang apa?"
"Rinduku ingin bercerita denganmu," aku tak tahu ketikkan apa.

"17:10
smile emoticon " hanya gambar raut wajah senyum, jadi kubalas sama.

"17:12
Andai aku di sana, di sampingmu."

"Jangan!"

"17:13
Kenapa?"

"Biar aku lebih lama menanggung rindu."

"17:14
Iyan. smile emoticon "

"Iya?"

"17:17
Benar kamu rindu?"

"Iya. Jadi, jaga rindu itu. Sampai aku ada di sana, untuk bersama."


You may like these posts