Jelaga Malam

Aku masih nikmati rindu yang tak berkesudahan. Sedang hujan sore tadi meninggalkan genangan di sisi kotaku. Jarum jam senantiasa berpindah ke angka lainnya. Sementara, tidak ada kabar dari Gendis untuk hari ini.

Gerimis mulai mendesis. Pelepah Kelapa samping rumah basah lagi; keringpun tak sempat. Gemericik air jatuh terdengar syahdu. Tak mungkin hujan mulai reda.

Pemuda berkulit cokelat ini tetap membisu, bersembunyi di antara aksara berserak.

Aku duduk di kursi, dengan mata yang sayu menahan kantuk, kupaksakan untuk nikmati buku yang sedari tadi kupangku. Di luar dugaan, hujan berhenti di tengah derasnya. "Kau pikir ini suatu kebetulan?" umpatku terhadap hati--bahkan tidak ada kebetulan yang diciptakan sia-sia.

Rasa khawatir menguasaiku. Kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat ke telepon genggam Gendis, "Gendis lagi sibuk ya?" Persis seperti itu.

Semakin lama, aku semakin mengantuk. Karena hingga dua jam lebih tidak ada balasan darinya. tapi entah apa yang memaksaku untuk tetap urungkan niat untuk terlelap, meski mulutku tak henti-hentinya menguap.

Terkadang, menanti tanpa sedikitpun kejelasan terasa sangat menyakitkan. Dan untuk alasan yang tidak dapat aku jelaskan ini, entah apa itu yang membuatku untuk tetap menanti. Meski hanya seuntai sampainya kabar.

Hampir jenuh. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar cukup lama; sebuah pertanda masuk pesan singkat. Setelah kulihat ternyata ada sembilan pesan, seluruhnya dari Gendis.

"Kamu sedang apa Yan?" Terdapat tiga yang seperti ini. "Sudah tidur ya, Yan?" Hanya ada satu. "Aku tidak lagi sibuk Yan. Lagi gangguan jaringan mungkin." Dua seperti ini. "Maaf kalau aku yang ternyata ganggu, Yan." Semua sisannya seperti ini. Gendis sedikit kecewa, mungkin. Entahlah....

Aku mendapatiku penuh sesal. Harusnya aku dapat lebih bersabar. Dan tidak mengirimkan pesan seperti sedang memaksa Gendis untuk memperhatikan aku. Ceroboh, terlebih aku bodoh untuk memahami Gendisku.

You may like these posts