Surat Cintaku
Kau pikir, aku sudi menuliskanya dengan rapih lalu mengemasnya dengan
amplop merah jambu? Kau pikir, aku akan menghias setiap kata dalam surat
ini dengan kemesraan seperti yang biasa dilakukan kekasih dekatmu itu?
Kau pikir, bahasa hati adalah kejujuran? Tidak lebih pantas menjadi
jawaban atas setiap pertanyaan itu.
Kasih sayang tidak butuhkan amplop merah jambu untuk tunjukkan kasihnya. Atau beribu barisan kata indah, menyanjung penuh pesona, tapi hadir di atas dusta. Sekarang aku mengakuinya. Sering sekali aku terbakar api cemburu yang harusnya tidaklah pantas untuk itu. Seperti hari lalu, kemarin dan pagi ini.
Sayang... ingin kupecahkan setiap cermin yang memantul bayang, padamkan cahaya, juga pesonamu. Agar tiada lagi kubisa melihat bayangmu bertaburan lalu hinggap di setiap pria. Meski untuk cemburu sekali pun bukanlah hakku.
Sayang... aku tak peduli kau juluki lagi si gila. Dari setiap keringatku yang kadang diludah bahkan pilu yang terasa tak mudah. Hingga detik tadi kudapati, maumu berpisah sudah.
Sayang... ini hidupku. Kesempatan penuh dari Tuhan. Tapi tidak untuk menuhankan hidup.
Sekian, sayang.
Kasih sayang tidak butuhkan amplop merah jambu untuk tunjukkan kasihnya. Atau beribu barisan kata indah, menyanjung penuh pesona, tapi hadir di atas dusta. Sekarang aku mengakuinya. Sering sekali aku terbakar api cemburu yang harusnya tidaklah pantas untuk itu. Seperti hari lalu, kemarin dan pagi ini.
Sayang... ingin kupecahkan setiap cermin yang memantul bayang, padamkan cahaya, juga pesonamu. Agar tiada lagi kubisa melihat bayangmu bertaburan lalu hinggap di setiap pria. Meski untuk cemburu sekali pun bukanlah hakku.
Sayang... aku tak peduli kau juluki lagi si gila. Dari setiap keringatku yang kadang diludah bahkan pilu yang terasa tak mudah. Hingga detik tadi kudapati, maumu berpisah sudah.
Sayang... ini hidupku. Kesempatan penuh dari Tuhan. Tapi tidak untuk menuhankan hidup.
Sekian, sayang.
