Iri Deras Hujan

Debar kencang.... Aku tidak pernah mengira apalagi merancang. Bahkan bincang-bincang
kecil kita dicemburui semesta. Dimana langit kini menghitam. Seakan hadirkan alasan untuk akhiri pertemuan. Sungguh aku 'tak ingin ... sungguh.

"Apa yang membuatmu sampai seperti ini Yan?" Tanya Gendis mengejutkan.

Mataku menatap tajam. Keningku mengerut seketika merasa sedikit curinga dengan pertanyaannya. "Maksudmu Dis?"

"Bagaimana perasaanmu? Boleh tahu apa alasannya?"

"Alasan apa? Aneh."

Mata Gendis yang sedari tadi memandang kosong jendela kelas kini ke arahku. Mustahil aku berlari untuk sembunyi.

"Jawab loh Yan!?" Rengeknya dengan nada sedikit tinggi.

"Apa yang harus aku jawab, Dis?"

"Pertanyaanku tadi. Apa yang kamu rasakan?"

Aku semakin 'tak habis pikir. Gadis semanis Gendis sebegitu mengesalkan. Bagaimana tidak, aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Sementara aku dipaksa untuk menjawab pertanyaan itu.

"Perasaan? Rasa? Apa Dis?" Aku semakin keheranan.

"Apa kamu tidak pernah merasakan jatuh hati?"

"Apa kamu begitu tuli hingga tidak mendengar? Apa kamu buta hingga tidak bisa membaca? Meraba atau bahkan mengerti? Aku sudah jatuh hati, Dis." Kulanjutkan untuk membaca buku yang kubawa.

"Sama siapa? Siapa Siapa?" Desaknya.

Sengaja aku tidak menjawab pertanyaannya. Malah kutatap wajah ayu Gendis lengkap dengan dagunya yang menggantung bak sarang Lebah.

"Kenapa, Yan?" Tanya Gendis. Malah kini dia terlihat keheranan.

Aku sedikit tertawa kecil. Karena sungguhlah parasnya semakin terlihat manis.

"Aku memang sedang jatuh hati padamu, Gendis." Jelasku singkat.

"Apa alasannya, Yan?"

"Jatuh hati tidak butuh alasan, Dis."

"Bisa gitu ya?"

"Sudah, jangan ganggu konsentrasiku. Aku memang sedang jatuh hati padamu."

Saat itu hujan turun dengan derasnya. Basahi jendela-jendela kaca. Hembuskan udara yang terasa dingin. Tapi hatiku sedang hangat-hangatnya. Tidak menyadari aku telah beranikan diri untuk jujur pada Gendis.
 
 
 

You may like these posts