Keajaiban

Hadirmu, bagai keajaiban....
Benar saja, setelah lama hatiku tak temukan gairah mencinta. Setelah lelah kumencari kemanamu jelita. Dan setelah itu kau hadir bagai pelita yang sudi mengurai gulita.







Untukmu, dan aku yang tidak pernah peka. Karena kulebih cenderung diam dan hadirkan petaka. Bagaimana tidak? Aku terpaku merasakan kaku di ujung lidah. Hingga kau hadir dalam balutan penuh pesona indah. Tak mampu kudustai dengan sempurna kala itu, di mana 'magic-word' kau racik apik. Bak teater epik atau bahkan dongeng pengantar tidur... apa pun itu, kini mata pedang telah kutepik.

Seperti ungkap Kang Dana dalam KBMK, "cinta itu kata kerja, ah pernyataan ini sudah basi. Tertulis di buku "7 Habit of Heagly Effective People". Cinta, hanya bisa dibuktikan dengan rajin bekerja, bukan dengan permainan romantis kata-kata. Pria yang cuma megandalkan itu, pada akhirnya, dia akan mendapatkan hadiah, berupa piala, bertuliskan, Pembual Juara Satu." Sejurus dengan apa yang belum lama ini aku dengar, di mana salah seorang berkata bahwa kerja keras adalah nama lain dari keajaiban.

Sempat akrab di telinga. Menjelang pesta demokrasi yang digadang-gadangkan negeri ini. Di mana kedua calon petinggi menyeru tentang 'keajaiban' meski berlainan redaksi, tapi saling menjelskan. "Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" ujar yang mendapat nomor urut satu. Sedang yang satunya-mendapat nomor urut dua, "kerja kerja kerja," menjadi jargonnya. Sebuah pertanyaan retoris, Kalau bukan kita, siapa lagi? Tentu kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Tentu pula jawabannya sekarang. Kita-sekarang? Melakukan apa? Sungguh jawabannya sudah ada, kerja.

Itu seperti cinta, kan?

Keajaiban dalam kehidupan. Kita selalu dituntut untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Atau yang biasa disebutkan dengan hak dan kewajiban. Jika ada sepetak hati yang tak retak-ah... retak pun tak mengapa atau bahkan pecah berkeping, dan memang itu kau sebutkan sebagai 'hak untukku' maka biarkanlah tetap berada di sana. Hingga penghujung senja nanti kuakan sambangi. Datangi dan kembali mengukir senyum pada seraut wajah teduh itu-yang bersembunyi di balik hati yang rapuh, lalu biar kuucap keajaiban dalam bahasa yang berbeda.








You may like these posts