Kedaulatan Rakyat dalam Lintasan Sejarah

Perkembangan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan telah mendorong munculnya pertumbuhan surat kabar di kota Yogyakarta. Surat kabar yang terbit pertama kali di Yogyakarta bukanlah surat kabar berbahasa daerah tetapi berbahasa Belanda. Surat kabar itu dikenal dengan nama Mataram. Harian Mataram terbit antara tahun 1877-1942 dan diterbitkan oleh Percetakan H. Buning. Isi harian Mataram bertema tentang perdagangan dan ekonomi. Selain itu juga ada surat kabar Jogja Vooruit dan Mooi Jogjakarta yang isinya mengenai perkembangan pemukiman baru, usaha-usaha dagang dan pariwisata di Yogyakarta. Surat kabar berbahasa Jawa baru muncul pada tanggal 5 Juli 1879 dengan nama Darmowarsito yang dipimpin oleh H. Halkema dengan Sultan sebagai pelindungnya. Harian ini terbit setiap hari Sabtu dengan tarif 6 gulden per semester dan dicetak oleh Percetakan H. Buning. Karena kurang dan rendahnya minat masyarakat untuk membaca maka Darmowarsito gulung tikar tahun 1880. Setelah vakum sekian lamanya, pada tanggal 17 Mei 1895 terbit lagi surat kabar berbahasa Jawa dengan nama Retnodoemilah. Pada mulanya Retnodoemilah merupakan surat kabar mingguan kemudian terbit setiap minggu 2 kali yaitu hari Selasa dan Jumat dengan pengantar bahasa Jawa dan Melayu. Surat kabar ini diterbitkan oleh Percetakan H. Buning & Co dengan editor seorang Belanda, F.L Winter . Pada tahun 1900 Wahidin Sudirohusodo menjadi editor Retnodoemilah seksi bahasa Jawa dan Tjan Tjiok San menjadi editor Retnodoemilah seksi bahasa Melayu. Pada tahun 1901, Wahidin Sudirohusodo menjadi redaksi tunggal Retnodoemilah. Di Yogyakarta, surat kabar Melayu Tionghoa terbit tahun 1913 dengan nama Bintang Mataram. Surat kabar ini dicetak oleh Handelsdrukkerij In Boe Soe Kiok yang isinya tentang masalah-masalah perdagangan Cina. Harian Boedi Oetomo (1920-1924) menjadi organ organisasi Boedi Oetomo (BO). Harian ini dicetak oleh percetakan Mardi Moelja. Sedangkan Partai Sarekat Islam Indonesia menerbitkan harian Lasjkar (1930-1932) dan Fajar Asia yang dipimpin HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim. Sedya Tama merupakan surat kabar lokal yang terbit pertama kali tahun 1925. Surat kabar ini terbit tiga kali dalam seminggu. Namun, tahun 1926 surat kabar ini terbit setiap hari. Pada tahun 1930-an, satu-satunya koran yang dapat dibaca dan menjadi hiburan bagi masyarakat adalah Sedya Tama. Koran ini menggunakan bahasa Jawa dengan huruf latin. Koran ini diterbitkan oleh para pemuda pergerakan. Direksi penerbitan koran ini dijabat oleh R. Rudjito, seorang Direktur OL Mij Boemipoetera. Sedya Tama dicetak oleh Penerbit Mardi Moelja. Pemimpin redaksi dipercayakan kepada Bramono atau Alfonsius Soetarno Dwidjosarojo. Kemudian diganti oleh Brotosusastro dan selanjutnya Darusalam. Sebelum pendudukan militer Jepang, redaksi koran berbahasa Jawa ini dijabat oleh Mr. Soenario. Pada tahun 1936, Mr. Poerwokoesoemo dipercaya menjadi Kepala Perwakilan Redaksi Sedya Tama di Jakarta. Pemimpin perusahan diserahkan kepda RM. Setio. Mayoritas pelanggan Sedya Tama adalah masyarakat Yogyakarta. Selain memimpin Sedya Tama, Bramono juga mengelola mingguan Swara Tama yang diterbitkan oleh kaum pelajar Xaverius College di Muntilan. Tokoh-tokoh yang pernah mengemudikan mingguan ini antara lain Soegijopranoto (Uskup Agung pertama Bangsa Indonesia) dan Sismadi Sastrosiswojo. Di samping itu, Bramono juga menerbitkan mingguan berbahasa Jawa Merapi. Koran ini juga diterbitkan oleh Percetakan Mardi Moelja. Sampai tahun 1942 hanya ada 4 surat kabar yang mampu bertahan terbit yaitu Djogja Bode (1936-1942), Kawoela (1938-1942), Mataram (1877-1942), dan Sedya Tama (1925-1942). Pada masa pendudukan militer Jepang tahun 1942 hanya ada 2 surat kabar yang terbit yaitu Mataram dan Sedya Tama. Mataram kemudian dilarang terbit sesuai dengan Osamu Seirei No. 16 yang isinya melarang semua surat kabar berbahasa Belanda dan Tionghoa. Sedya Tama yang berbahasa Jawa kemudian diubah memakai bahasa Indonesia atas perintah Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu). Karena ditekan terus-menerus oleh militer Jepang, akhirnya penerbitan koran Sedya Tama dihentikan sendiri oleh R. Roedjito. Pada saat itu kantor Sedya Tama berada di Jalan Malioboro (dulu digunakan sebagai markas Polwil Yogyakarta, sekarang menjadi bagian Garuda Natour Hotel sisi selatan).

Sinar Matahari Edisi 55 Tahun III 

Kedaulatan Rakyat 27 September 1945

Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu) kemudian menerbitkan harian yang dikenal dengan nama Sinar Matahari. Sinar Matahari terbit pertama kali tanggal 1 Juli 1942. Pada awalnya kantor harian Sinar Matahari di Jalan Tugu Kidul , menempati lokasi Penjahit dan Penatu Ganjar Sabar dan selanjutnya pindah ke Jalan Malioboro No. 22 (menempati bekas kantor Sedya Tama). Pada saat itu tirasnya mencapai 12.000 eksemplar. Pimpinan harian Sinar Matahari adalah Miyakawa. Hoofdredacteur atau pemimpin redaksinya RM Gondhojuwono dan Sekretaris Redaksi, R. Soemijatno Ardinoto. RM Gondhojuwono merupakan mantan interniran Digul dan sebelumnya pernah bekerja di Dagblad Mataram. Seiring dengan gentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, harian Sinar Matahari diupayakan untuk terus terbit. Hal ini sebagian besar dimotori oleh pejuang-pejuang pers dari bekas harian Sedya Tama seperti : Bramono, Soemantoro, Moeljono, Samawi, Djoemadi, dan Moehammad Noer. Terbitannya tidak lagi berorientasi pada propaganda dan kepentingan Jepang. Berita yang dimuat memberikan sumbangan yang besar bagi para pejuang kemerdekaan, seperti berita Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pernyataan Sultan Hamengku Buwana IX dan Paku Alam VIII yang menyatakan berdiri di belakang pemerintahan RI, dan seruan-seruan yang mengobarkan semangat juang para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Harga berlangganan harian Sinar Matahari per Juli 1945 sebesar 1.50 gulden/bulan. Berita-berita yang dipublikasikan Sinar Matahari itu mengundang ketidaksenangan militer Jepang. Upaya yang dilakukan untuk mengamankan Sinar Matahari agar tidak dimanfaatkan Jepang yaitu dengan cara menyegel kantor Sinar Matahari yang dilakukan oleh Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta (KNID Yogyakarta). Saat Sinar Matahari disegel, masyarakat Yogyakarta tidak mendapat penerangan atau informasi tertulis yang memadai tentang keadaan Republik Indonesia. Maka timbullah kebulatan tekad dari Samawi dan kawan-kawan pejuang untuk segera menerbitkan surat kabar sendiri. Sesudah segel kantor Sinar Matahari dibuka, dilakukanlah persiapan menerbitkan koran pengganti Sinar Matahari. Pada tanggal 26 September 1945, lay out koran telah dikerjakan. Semangat para pemuda yang terlibat dalam penerbitan koran baru pengganti Sinar Matahari semakin berkobar-kobar, tetapi redaktur dan karyawan yang ada saat itu belum juga menemukan nama yang cocok untuk koran tersebut. Akhirnya, dua orang redaktur yaitu Samawi dan Soemantoro diutus untuk menemui Ketua KNID Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo. Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo tersenyum lalu memberikan nama Kedaulatan Rakyat. Keesokan harinya, Kamis Kliwon 27 September 1945, empat puluh hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan lahirlah harian Kedaulatan Rakyat di tengah kancah revolusi Kemerdekaan RI. Nama koran itu, yang kemudian lebih populer dengan inisial KR, merupakan harian tertua pertama setelah Indonesia merdeka. Kantor redkasi KR waktu ini berada di bekas kantor Sinar Matahari, terletak di Jalan Malioboro No. 22, sebelah utara Gedung DPRD DIY. Kedaulatan Rakyat dicetak dan diedarkan ke seluruh wilayah Yogyakarta menggunakan sisa kertas harian Sinar Matahari. Nomor perdana belum mencantumkan nama pengasuh (anonim). Pada hari pertama berhasil dicetak 2000 eksemplar. Pada hari kedua dicetak 3000 eksemplar dan hari ketiga 4000 eksemplar, semua habis terjual. Logo harian Kedaulatan Rakyat masih menggunakan huruf kapital tegak dan pada akhir tahun 1947 menggunakan logo dengan huruf kursif dan ejaan lama. Susunan pengelola Kedaulatan Rakyat yang pertama, antara lain : Bramono sebagai pemimpin umum, Soemantoro sebagai pemimpin redaksi, Samawi sebagai wakil pemimpin redaksi, Soeprijo Djojosoepadmo dan Mardisisworo sebagai staf redaksi. Mesin yang digunakan untuk mencetak adalah Snelpress (untuk cetak) dan Intertype (untuk pracetak). Mesin untuk melipat koran diambil dari Semarang. Sedangkan, mesin cetak Heidelberg mampu mencetak seribu eksemplar setiap jam. Harian Kedaulatan Rakyat berisi artikel-artikel yang mengobarkan semangat perjuangan , rubrik dan iklan (advertensi). Pada akhir tahun 1947, Samawi menggantikan kedudukan Bramono sebagai pemimpin umum merangkap pemimpin redaksi KR. Untuk memajukan KR, maka diajaklah Madikin Wonohito yang telah berpengalaman sebagai wartawan di berbagai surat kabar termasuk KR. Pada tahun 1948, Madikin Wonohito dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Kedua sahabat itu kemudian dikenal sebagai dua serangkai atau dwitunggal KR. Akhirnya, kerjasama mereka berhasil mengangkat KR sebagai “koran perjuangan” dari Yogyakarta.
Kantor KR tempo dulu di Jalan Malioboro No. 22 (menempati bekas kantor Sinar Matahari)

Bangunan kantor Kedaulatan Rakyat merupakan bangunan bergaya indis. Dalam buku ”Djokja en Solo Beeld van de Vorstenden”, karya M.P. van Bruggen terdapat Peta Yogyakarta tahun 1925 dimana bangunan KR pada awalnya adalah Autohandel “Centrum” atau Toko Mobil dan Assesoris “ Centrum”. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini digunakan sebagai Kantor Sosial Republik Indonesia dan pada tahun 1950 digunakan sebagai Kantor PT. BP Kedaulatan Rakyat atas persetujuan Sultan Hamengku Buwana IX sampai sekarang.

Denah-Kantor-Kedaulatan-Rakyat-tahun-1925Denah Kantor Kedaulatan Rakyat tahun 1925 diambil dari buku ”Djokja en Solo Beeld van de Vorstenden”, karya M.P. van Bruggen (Netherland : 1998)

You may like these posts