Orang Ketiga
Kau tahu, tentang aku yang merindu?
Bergelut sepi tanpa durasi. Hingga inginku membakar lembaran janji yang kau tuliskan mesra. Menggantikannya dengan pesan rinduku saja, meski tak pernah sudi kau untuk membacanya.
Riuh sorak-sorai manusia melepas tahun lalunya masih terekam jelas. Dimana tiap-tiap mereka hanyut dalam tawa meninggalkan aku sendiri, berdiri di antaranya. Tak lama kemudian suasana langit malam berubah, dihujani warna tapi bukan pelangi. Ada yang biru tapi bukan lapisan ozon yang merefleksi. Seperi bunga-bunga api.
Sesaat tadi sebelum itu.
Kau masih sudi berucap benci.
Sehari sebelum malam pergantian tahun.
"Silahkan cari yang lainnya!" ucapmu bersuara keras. Membuat tertunduk merasa tiada pantas ucapan manis kudengar lagi.
Sebulan sebelum kabar duka itu kau perdengarkan.
Kau dingin sekali. Sepertinya terbiasa taburkan salju sedari jumpa pertama.
Setiap malam-malam terasa panjang. Bahkan hari-hari yang berganti tiada rela kulewatkan begitu saja tanpa senyum yang kau ramu hangat. Seperti pikat pesona, membuatku mendekat.
Sekarang... rintik hujan kecil turun perlahan. Picu luapan-luapan perasaan hingga menyendiri menjadi alasan lumrah. Kubaca sepucuk surat yang sedari tadi datang bersamaan petugas pos.
Siapa yang merencana pertemuan pertama sungguh merahasia. Hingga harus kuakui, hati ini berkata sesuatu yang tiada biasa. Dimana saat-saat gembira bahkan pilu kita lalui bersama. Maksudku, sesuatu menyimpan rencana besar dari Tuhan. Dari pertemuan yang tidak terencana... juga hatiku terjatuh tiada terduga... hingga kebersamaan yang kini menemui perpisahan.
Tiada lagi akan ada alasan panjangku yang mampu menjelaskan. Cari saja pengganti, itu jauh lebih masuk akal.
Aku masih duduk di atas kasur setelah membaca surat itu. Tiba saatnya rindu membakar habis dirinya sendiri. Tak lagi akan kucegah karena ada rencana besar dari Tuhan.
Tunggu dulu... dalam riuh melepas tahun itu.
Aku melihatnya, dia duduk berlama-lama bersama seseorang dengan terompet dan bunga api. Lengkap dengan senyum racikan hangat... hanya sejauh itu yang mampu kuingat. Sedang aku sibuk mengelilingi keramaian, tak begitu tertarik untuk sambangi, malah berusaha berdamai dengan hati.
Demikian. banyak manusia yang menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk membenarkan segala tindak. Pantaskah?
Bergelut sepi tanpa durasi. Hingga inginku membakar lembaran janji yang kau tuliskan mesra. Menggantikannya dengan pesan rinduku saja, meski tak pernah sudi kau untuk membacanya.
Riuh sorak-sorai manusia melepas tahun lalunya masih terekam jelas. Dimana tiap-tiap mereka hanyut dalam tawa meninggalkan aku sendiri, berdiri di antaranya. Tak lama kemudian suasana langit malam berubah, dihujani warna tapi bukan pelangi. Ada yang biru tapi bukan lapisan ozon yang merefleksi. Seperi bunga-bunga api.
Sesaat tadi sebelum itu.
Kau masih sudi berucap benci.
Sehari sebelum malam pergantian tahun.
"Silahkan cari yang lainnya!" ucapmu bersuara keras. Membuat tertunduk merasa tiada pantas ucapan manis kudengar lagi.
Sebulan sebelum kabar duka itu kau perdengarkan.
Kau dingin sekali. Sepertinya terbiasa taburkan salju sedari jumpa pertama.
Setiap malam-malam terasa panjang. Bahkan hari-hari yang berganti tiada rela kulewatkan begitu saja tanpa senyum yang kau ramu hangat. Seperti pikat pesona, membuatku mendekat.
Sekarang... rintik hujan kecil turun perlahan. Picu luapan-luapan perasaan hingga menyendiri menjadi alasan lumrah. Kubaca sepucuk surat yang sedari tadi datang bersamaan petugas pos.
Siapa yang merencana pertemuan pertama sungguh merahasia. Hingga harus kuakui, hati ini berkata sesuatu yang tiada biasa. Dimana saat-saat gembira bahkan pilu kita lalui bersama. Maksudku, sesuatu menyimpan rencana besar dari Tuhan. Dari pertemuan yang tidak terencana... juga hatiku terjatuh tiada terduga... hingga kebersamaan yang kini menemui perpisahan.
Tiada lagi akan ada alasan panjangku yang mampu menjelaskan. Cari saja pengganti, itu jauh lebih masuk akal.
Aku masih duduk di atas kasur setelah membaca surat itu. Tiba saatnya rindu membakar habis dirinya sendiri. Tak lagi akan kucegah karena ada rencana besar dari Tuhan.
Tunggu dulu... dalam riuh melepas tahun itu.
Aku melihatnya, dia duduk berlama-lama bersama seseorang dengan terompet dan bunga api. Lengkap dengan senyum racikan hangat... hanya sejauh itu yang mampu kuingat. Sedang aku sibuk mengelilingi keramaian, tak begitu tertarik untuk sambangi, malah berusaha berdamai dengan hati.
Demikian. banyak manusia yang menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk membenarkan segala tindak. Pantaskah?
