Perempuanku
Sampai kapan kau akan terus
bersembunyi di balik bilik hati yang rapuh itu? Seakan tak lelah
menari-nari dalam aksara, "Tak semua yang tertulis di sini adalah
tentangku, meski ini adalah duniaku." Sementara aku bicara tentangmu,
perempuanku.
Kepadamu yang jauh di sana... yang memperkenalkan hati dengan baiknya. Aku pengagummu dari kejauhan-hingga tak terlihat. Setelah malam tadi kulewati masa terberat dalam pengasingan. Di mana bayang-bayang seraut wajah kubayang. Dudukkan seluruh keberanian dalam getir, hingga tampillah semua kebodohan si kikuk ini.
Perempuanku... tak lelahku bercerita meski tiada sudimu untuk sambangi.
Perempuanku... aku bukan pengarang prosa picisan. Buka pula terlahir dari rahim kesastraan Indonesia pada 1930-an yang kental oleh aliran romantik dan individualisme. Akan tetapi, bisa jadi apa yang pernah dikatakan seorang guruku benar. Beliau berkata bahwa aku seperti orang yang sedang 'mabuk'.
"Awas gila!" seru beliau melengkapi.
Awalnya aku kurang setuju, hingga belakangan ini sadar itu kembali. Aku bak si 'pemabuk' dari zaman Renaisans yang ingin lepaskan dahaganya setelah gereja-gereja dari abad pertengahan mengekang penggunaan akal.
Perempuanku... pemilik wajah teduh. Aku mengerti akan dianggap seperti orang 'pesakitan'. Persis saat Ghazali menyatakan dangkal, pandangan yang berasal dari akal. Tapi tenanglah, perempuanku. Ibn Rushd sudah menjelaskan, meski harus terbakar kitab-kitabnya.
Perempuanku, sampai kapan seperti itu? Tak lelahkan bersembunyi?
Kejahatan seperti apa yang membuatmu nyaman di sana? Hingga dirimu tega sembunyikan 'sayang' yang bagiku merupakan semangat kemanusiaan.
Kepadamu yang jauh di sana... yang memperkenalkan hati dengan baiknya. Aku pengagummu dari kejauhan-hingga tak terlihat. Setelah malam tadi kulewati masa terberat dalam pengasingan. Di mana bayang-bayang seraut wajah kubayang. Dudukkan seluruh keberanian dalam getir, hingga tampillah semua kebodohan si kikuk ini.
Perempuanku... tak lelahku bercerita meski tiada sudimu untuk sambangi.
Perempuanku... aku bukan pengarang prosa picisan. Buka pula terlahir dari rahim kesastraan Indonesia pada 1930-an yang kental oleh aliran romantik dan individualisme. Akan tetapi, bisa jadi apa yang pernah dikatakan seorang guruku benar. Beliau berkata bahwa aku seperti orang yang sedang 'mabuk'.
"Awas gila!" seru beliau melengkapi.
Awalnya aku kurang setuju, hingga belakangan ini sadar itu kembali. Aku bak si 'pemabuk' dari zaman Renaisans yang ingin lepaskan dahaganya setelah gereja-gereja dari abad pertengahan mengekang penggunaan akal.
Perempuanku... pemilik wajah teduh. Aku mengerti akan dianggap seperti orang 'pesakitan'. Persis saat Ghazali menyatakan dangkal, pandangan yang berasal dari akal. Tapi tenanglah, perempuanku. Ibn Rushd sudah menjelaskan, meski harus terbakar kitab-kitabnya.
Perempuanku, sampai kapan seperti itu? Tak lelahkan bersembunyi?
Kejahatan seperti apa yang membuatmu nyaman di sana? Hingga dirimu tega sembunyikan 'sayang' yang bagiku merupakan semangat kemanusiaan.