Referensi Hitam : Kunjungan Istimewa

Tiada kata paling indah yang pernah ada, selain kejujuran. Aku masih memikirkan hal tersebut saat menghabiskan waktu dengan menjelajah gang sempit. Tepat di ujung jalan, di antara rumitnya denah yang seperti labirin raksasa, terdapat rumah yang sedang kutuju. Kejujuran kupertanyakan lagi. Saat melihat kumuhnya lingkungan ini, akankah kejujuran kudapatkan di sini?

Ternyata pintunya tidak dikunci. Aku tetap mengucap salam meski terlihat sangat layak untuk tidak berpenghuni. Terdapat kursi goyang menghadap ke tungku kayu, keduanya berdebu, dipenuhi sarang laba-laba.

"Sudah datang rupanya," suara wanita renta mengejutkanku; seakan sebelumnya tahu akan ada yang mengunjunginya.

Inikah Saafa Moallem? Wanita yang kukenali dari beberapa buku, sungguh memesona.

"Assalamu'allaikum, Ibu." Aku sudah menganggapnya seperti itu tepat pertama kali membaca buah pikirannya.

"Wa'allaikumsalam, Nak. Apa yang mengantarmu ke kediamanku?" katanya sembari mengaduk minuman hangatnya.

"Masa lalu. Iya, masa lalu yang mengantarkanku ke sini, Bu."

"Tidak semua yang kau baca atau pun dengar itu benar."

"Aku tahu itu, Bu," mendekatinya. "Tapi mengapa Ibu lebih memilih diam dan bersembunyi di sini? Itu sama halnya dengan lari dari permasalahan."

Wanita tua yang lebih pantas kupanggil nenek itu tersenyum, manis sekali. "Berapa usiamu, sayang?"
Gugup. Rasanya seperti temui ibuku sendiri yang telah lama tiada saat dipanggilnya aku dengan sebutan 'sayang'. Hanya wanita yang mengerti perasaan menjadi wanita, benar. Demikian ibuku menasehati.

"Aku Sania Mentari, baru 20 tahun. Maaf tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, Bu."

Dia tersenyum lagi, "usiamu terlalu muda untuk mengetahui peliknya masa lalu, sayang. Orang yang berada dalam penjara adalah orang jahat tapi belum pasti yang tidak terpenjara adalah orang baik."

"Maksudmu, Bu." Ini semakin menarik.

"Aku memenjarakan diri dari pola hidup sebelumnya. Saat informasi yang beredar tidak ada beda dengan provokasi, lebih baik menjauh, Sayang."

"Banyak media yang membicarakan tentang pembunuhan itu, Bu."

"Tapi kenapa dirimu mendatangiku?"

"Aku penasaran, Bu."

Diam lebih dipilihnya. Mungkin tidak mempercayaiku kali ini.

"Lalu? Kamu tidak takut jika nantinya akan terbunuh oleh nenek ini?" kata-katanya menohokku secara perlahan.

Andai hidup seperti pilihan ganda yang jawabannya sudah disediakan. Pastilah pilihan akan kutentukan dengan mudah.

"Hatiku mengingkari semua berita itu, Bu. Menurutku, bukti yang ditampilkan pada publik janggal. Lebih-lebih lagi Ibu sendiri tidak dipersilahkan untuk memberi penjelasan, dengan dalih 'tangkap tangan'."

"Pasti segera kau dapatkan yang selama ini kau cari, Sayang."

"Fakta?"

Kursi berdebu yang kukira nyaman ditinggalkannya. Diletakan gelas besar minuman hangatnya di atas tungku. Dan kembali dari balik bilik ruangan yang sepertinya kamar tidur.

"Ini catatan tangan yang kami tulis bersama. Haysha Jazima terlalu baik untuk kubunuh jika benar aku pembunuh."

Aku membuka buku itu. Banyak sekali foto mereka berdua, akrab sekali. Cemburuku berkecambuk saat sadari mereka saling bersahabat baik yang tidak ditemui sekarang ini. Lebih-lebih lagi media selama ini telah mencekoki publik dengan fitnah yang luar biasa.

Pantas setelah menjalani hukuman kurungan 12 tahun, Saafa Moallem mengasingkan diri ke sini. Lingkungan kumuh ini lebih memanusiakan manusia. Sementara modernisasi berjalan berdamping gengsi dan tanpa hati nurani.


You may like these posts