1. Legenda Kesatria Apocalipse

Sejarah mencatat, sekitar lima belas ribu tahun lalu ada batu besar dari luar angkasa jatuh di bumi. Pijar bintang besar itu disaksikan warga desa Madeline saat berada di ruang hampa dan menyentuh atmosfer, hingga menghilang di antara bukit-bukit. Tepat di hulu sungai Reva, yang kini lebih dikenal dengan sungai Lava--karena pasca kejadian tersebut daerah itu seakan mati. Tidak ada binatang yang bertahan hidup karenanya, bahkan dalam radius dua kilometer tidak terdapat tumbuhan, air yang mengisi sungai pun kering.

Alberto Knox, si pandai besi mulai penasaran akan kebenaran cerita turun-temurun itu. Ditemani lampu teplok redup miliknya, ia masuki daerah yang sudah terisolasi selama ribuan tahun tersebut. Pantas disebut sisi Madeline yang mati, gumamnya pada udara malam yang dingin. Pungguk tidak berani merindu bulan di sini, sebab dahan pun tidak ada. Atau serigala yang melolong pada purnama, pasti bulu-bulunya akan rontok, karena sisi Madeline yang mati jauh lebih buruk dari lolongannya.

Ia merasa bodoh karena sudah sepanjang hulu sungai ditelusurinya namun tiada hasil. Kebodohannya menjadi-jadi kala udara dingin seakan terbahak-bahak, menertawakannya.

Alberto nampak kesal, sesekali mencerca gulita, "Sial! Mestinya aku tidak percaya begitu saja dengan cerita pengantar tidur!"

Tiada yang pantas disalahkan, kecuali dirinya yang mudah percaya, seseorang berdusta padanya pun akan dianggapnya sebuah kejujuran. Sama seperti saat pedang besi pertama hasil tempaannya dibawa pergi kesatria dari kota Gnoll Wood. Memang dijanjikan padanya sebuah bayaran seratus keping emas, harga yang fantastis, namun hingga ratusan pedang besi lainnya berhasil dijual, janji kesatria itu tidak kunjung terwujud. Mungkin sudah nyenyak dalam tidur abadinya, pikir Alberto suatu waktu.

Semua sesal dibawanya, berjalan memutar untuk pulang. Namun persis ungkap Lucy dari negeri Narnia yang jauh, "Mungkin, sesuatu terjadi saat kita sudah tidak menginginkannya." Wajah Alberto merah padam, udara dingin yang terbahak pun diam. Dilihatnya bongkahan batu dengan diameter sepanjang lengan orang dewasa, bersinar-sinar. Bak bintang kejora yang berada milyaran tahun cahaya di langit.

Batu bercahaya itu ternyata lebih ringan daripada apa yang terlihat. Hingga menjelang pagi, Alberto sudah sampai di rumah dan memulai kesibukannya seperti biasa, memanaskan bahan untuk dibuat perlengkapan berperang dengan bangsa Ogre.

----bersambung----


You may like these posts

1 Comments

  1. Unknown
    Fantastis af