2. Legenda Kesatria Apocalipse
Beberapa Pheonix terbang bebas di langit Madeline, sedang ini bukan musim panas; mustahil jika ingin bermandi terik matahari. Burung-burung yang berasal dari api itu membakar lagi udara yang sesaat tadi teduh. Tepat di mana matahari mulai bersembunyi pada bukit-bukit Alphine.
Seorang bayi menangis di gendongan ibunya. Bocah-bocah yang sedang bermain kejar-kejaran menghentikan permainannya. Begitu pun orang tua, baik lelaki juga perempuan, semua memerhatikan Pheonix yang sebelumnya tidak pernah terlihat saat semi.
"Sesuai hasil ramalanku yang tidak kalian percayai," kata seorang peramal tua pada warga Madeline. "Ini pertanda buruk. Tulang-tulang yang kupakai meramal terbakar saat kulemparkan ke dalam api," lanjutnya.
"Diam kau orang gila!" Hans, seorang anak kecil berambut pirang berteriak kencang.
Sementara yang lain sibuk menggrutu peramal itu lalu menyibukkan diri. Tidak akan terjadi apapun, pikiran mereka sama.
"Kau tahu apa bocah?"
"Kau tahu apa bodoh?" Hans mulai kesal, "namamu sendiri saja kau tidak tahu."
"Untuk Raja Lich!!!" Para kesatria pengembara yang singgah di Madeline hafal, begitulah teriakan Bangsa Ogre saat haus darah.
Tapi, yang membuat mereka bingung adalah kehadiran para Ogre di Bukit Alphine, Madeline. Jangankan untuk sampai Madeline, menginjak Kota Gnoll Wood--wilayah terdekat dari daerah kekuasaan Lich--saja biasanya Ogre sudah lari ketakutan; ada ribuan ahli pedang di sana. Memalukan untuk ukuran raksasa yang menjadi buruan pemegang pedang besar sekelas manusia.
Seluruh Madeline terperangah saat ribuan bayang Centaur mengisi barisan bukit. Tak hanya itu, Siren, Giant Bear, dan Deadly Warrior mengisi barisan paling depan.
Para kesatria mempersiapkan pedangnya. Ibu-ibu dan perempuan lainnya menarik anak kecil yang belum pantas menghadapi Ogre. Ketakutan kini menghujani Madeline. Sementara peramal tua itu tertawa, "Nikmati saja siksa yang sedikit terasa perih ini."
Hanya Alberto Knox yang masih setia menginjak kipas pegasnya, menjaga api pada tungku pembakaran tetap menyala besar. Karena bongkahan luar angkasa berbahan metal yang didapatnya belum juga meleleh. Dia benci situasi seperti ini; mengakhiri apa yang bukan akhir.
----bersambung----


