Flying Dutchman - Mencuri Jiwa-jiwa yang Sepi

Kapal yang tidak pernah berlabuh, begitu orang-orang menjuluki.
Sejak ratusan tahun lalu, dia memberi perintah kepada para anak buah untuk mengarungi tujuh lautan ..., selamanya. Dia punya banyak harta rampasan, hingga dapat dipastikan untuk tak akan pernah kembali menapak tanah. Jikapun persedian makanan dalam kapalnya sudah menipis, pasti kapal yang melewatinya tidak akan pernah selamat.

Tapi, entah apa yang membuat kapal Flying Dutchman memberi perintah malam itu, "Menepilah! Apa kalian tidak merasa bosan dengan anggapan menakutkan dari orang lain!."

Si Janggut Merah terbangun dari tidur mendengar ucapan sang kapten. "Terdengar seperti lelucon pengantar tidur! Apa Anda salah makan tadi pagi?"

"Maksud Anda apa!?" Flying Dutchman melepaskan pedang dari sarungnya.

"Jubilee!" Dipanggilnya sang koki.

Jubilee mendatangi Janggut Merah.

"Apa yang Anda sajikan untuk kapten pagi tadi!? Sial sekali, dia mangajak untuk menepi."
***

Tidak ada yang bisa mengubah keputusan kapten. Setelah Flying Dutchman menegaskan pada Janggut Merah, "Di sini siapa kaptennya!?"

Untuk pertama kalinya mereka kembali merasakan hidup seperti manusia kebanyakan; berjalan di tanah. Semuanya tampak bahagia, kecuali Janggut Merah. Ada yang aneh menurutnya, biasanya si kapten tidak akan pernah menarik kata-kata yang diucapkannya. Matanya terus memerhatikan Flying Dutchman.

Pelabuhan Bakahueni, Lampung.
Keadaan masih terlalu ramai untuk mendengar cara tertawa kapten. Hal itu justru mengundang pihak keamanan mendekati mereka.

"Maaf, selamat pagi! Kenapa kalian sangat mencurigakan?"

"Kami bajak laut!" ujar Janggut Merah penuh semangat.

"Yeah!" sahut yang lainnya bersamaan.

"Siapa yang bertanggung jawab atas ini?"

"Saya kaptennya!" Flying Dutchman memperkenalkan diri.

Walhasil mereka semua dibawa ke post keamanan.
***

Tidak ada yang berubah dari mereka setelah selesai diintrogasi, kecuali pedang yang kini disita dan telapak tangan kapten yang runcing kini harus digantikan buah pisang.

"Rajabasa, Kota Bumi, Kota Metro," para kernet sibuk menawarkan jasa angkutan.

"Mau kemana, Bang?" Salah seorang kernet bertanya pada Flying Dutchman.

"Ingin mencuri jiwa-jiwa yang sepi!"

"Lo kesepian ya, Bang? Padahal rame rombongan lo."

"Ah berisik!"

"Dari mana dan mau ke mana, Bang?"

"Kan sudah saya bilang! Anda tidak juga mendengarnya!?" Flying dutchman nampak marah. "Kami ingin mencuri jiwa-jiwa yang sepi. Kami dari tempat itu." Ditunjuknya post keamanan.

"Kalau kesiangan, gak bisa curhat sama Mamah jam setengah enam, ya curhat di kantor polisi aja, Bang. Enak, di ketikin."

Setelah berlangsungnya perundingan yang sangat lama dan berbelit-belit, mereka tetap berjalan, menjelajah buas tanah Sumatra. Jelas kernet menolak, mereka tinggalkan semua kemewahan yang dimiliki di kapal. "Tanah adalah tempat di mana kita berasal. Tidak sepantasnya karena kemewahan, lalu kita lupa dari mana asal kita." Sang kapten sangat bijak memberi petuah.

Tepat pukul 17:59, saat senja mulai berlabuh, kapten melihat seorang perempuan yang menangis. Di hujani cahaya matahari sore, air yang tertumpah, mengalih pada pipinya seakan dipenuhi warna magetha. Flying Dutchman diam, merasakan hal aneh, hatinya kembali berfungsi.

"Kenapa?" Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh perempuan itu; tak mengenal tangis.

"Aku sedih, Om. Tunanganku pergi bersama perempuan lain. Dia membatalkan pernikahan kami hanya karena perempuan yang baru dikenalnya."

"Pertunangan? Apa itu?"

"Ah, sudahlah! Kalian semua laki-laki," dilihatnya Flying Dutchman dan rombongan. "Apa tidak ada yang mengerti tentang pertunangan di antara kalian? Menikah? Jangan bilang kalian tidak ada yang tahu."

Mereka semua menggeleng. Ada yang saling menatap, tapi tidak membuahkan apapun, kecuali rasa ingin tahu yang lebih.

"Apa itu?" Salah seorang dari barisan bertanya.

"Sudahlah, jangan berpikir jauh ke sana. Kalian mengerti rasa kasih sayang, kan?"

"Kasih sayang?" Flying Dutchman seperti pernah mendengar kata itu.

"Iya. Rasa yang mempersatukan orang. Seperti kalian semua, ada perbedaan yang sama sekali tidak bisa disatukan. Tapi, yang kalian butuhkan bukan mempersatukan perbedaan itu, hanya memahami bagaimana cara menyikapi perbedaan itu. Terdengar mudah, kan?"

"Apa Anda benar-benar sedih?"

"Ya ..., tentu aku sedih."

"Tapi anda terdengar seperti orang yang sedang bahagia sekali. Perkenalkan namamu wahai perempuan bergaun pengantin yang gagal menikah." Flying seperti mengetahui persis kedalaman hati perempuan itu.

"Ah sial! Dasar badut bodoh! Kau seperti mengorek luka yang sama sekali belum sempat kututup, Om. Namaku Dimitra, kalau situ?"

"Aku Flying Dutchman, penguasa tujuh samudra. Hahahahahahaha."
Mendengar sang kapten tertawa, para anak buah mengikuti.

"Tapi ini daratan, Om. Bukan daerah kekuasaanmu."
Mereka mendadak diam setelah mendengarnya.
"Sebenarnya, kenapa kalian ke sini?"

"Kami ingin mencuri jiwa-jiwa yang sepi." Flying Dutchman tidak tertawa kali ini. Dia sadar, ini bukan daerah kekuasaannya.

"Jiwa-jiwa yang sepi? Ya kalian itu yang kesepian."

"Iya, tah?" Mereka saling padang lagi.

"Iya. Kasih sayang semasa putih abu-abu saja belum pernah kalian rasakan, kan?"

"Apa itu?" Flying Dutchman penasaran.

"Sudah-sudah. Kalian harusnya mencuri jiwa-jiwa kalian sendiri yang kesepian itu. Menyedihkan. Jiwa-jiwa yang sepi, di daratan, biasa disebut dengan jones."



Janggut Merah mengangguk mendengar penjelasan Dimitra. "Pantas Flying Dutchman ingin menepi. Jiwanya pasti sangat terguncang setelah kepergian Rose. Dasar jones."


You may like these posts