Kapan Kita Duduk Mesra Berdua?

Inginku, sungguh melampaui perbedaan yang menyekat erat di antara kita. Di mana banyak sekali perbedaan yang saling kita teriakan sebagai ‘kebenaran’ namun bukanlah nilai, melainkan sebatas ego. Justru karenanya kita tampil bagai orang bego, bak burung yang terlatih bicara—Beo.

Kemarin lusa saudariku, Ramadhani bertanya "kamu tahu, Yan, apa yang dapat menggugah kesadaran teman-teman yang apatis?” Lantas kutanyakan langsung pada beberapa mahasiswa yang memang tidak bernaung dalam organisasi mana pun. Jawaban dari mereka sungguh menakjubkan, sepertinya telah saling menyesuaikan jawaban. “Mahasiswa yang berorganisasi saja bisanya hanya berselisih,” kesemuanya menjawab demikian, meski dalam redaksi bahasa yang berbeda. Atau bodohnya lagi adalah hanya dijadikan 'tunggangan kepentingan'.

Mereka ternyata tidak saling ‘contek’ tapi itulah gambaran yang benar-benar ditunjukkan oleh banyak mahasiswa yang berorganisasi. Kita sepertinya lupa bahwa dulunya hanya sebatas mahasiswa yang kini dengan sengaja—atau tidak, masuk organisasi. Ataukah, kita benar orang organisasi yang tidak sengaja menjadi mahasiswa?

Sempat aku bertanya dengan teman, “Bukankah manusia terlahir sama? Sekali pun ada perbedaan, pastilah itu sebatas fisik. Dan pada hakikatnya, manusia tercipta sama—untuk beribadah kepada Allah, kan?” Temanku tadi menyetujui ucapanku. Lalu kulanjutkan, “Bukankah kita sama tahu, kelompok, organisasi menciptakan sebuah perbedaan. Lalu karena banyaknya organisasi, maka semakin banyak pula perbedaan yang ada. Tapi mengapa ketika perbedaan yang ada saling bersinggungan kita sama-sama teriakan perbedaan tersebut adalah ‘kebenaran’?”

Baru-baru ini sadarku kembali. Setelah sadari selama ini kita sering kali mengklasifikasi serta membatasi kebenaran dalam sebuah kata, dan anehnya lagi adalah itu—yang dianggap benar—hanya sebatas persepsi dari kita masing-masing. Padahal jauh daripada itu kita lupa bahwasanya telah kehilangan apa yang sering dielu-elukan, “Mahasiswa adalah agent of change.” Seakan kita sendiri melucuti apa yang dibanggakan.

Agent of change. Dalam skenario heroik, mahasiswa tampil sebagai “agent” untuk mengubah suatu tatanan yang terasa sangatlah tidak adil demi tercapainya kemerdekaan. Seluruh mahasiswa tanpa terkecuali berkesempatan untuk itu, kan?

“Tapi, kapal kita hilang arah kawan... nyaris tenggelam!”

Kita tak perlu, kan? Untuk berdiri, berlari, menembus blokade polisi, lalu sampaikan aspirasi dengan pengeras suara saat di mana perbedaan masih sangatlah rancu untuk dipersatukan. Kapan genggam semangat itu sama lagi? Jika harapan itu masih ada... kapan kita duduk mesra berdua? Lalu mengundang simpati mereka yang sering kita sebut ‘si apati’ untuk mendekat. Kita—terlebih aku, sering kali lupa akan dibawa ke ranah mana perjuangan ini.

You may like these posts