Ketika Jones Bertasbih

Sebut saja Jhon. Pria dewasa yang sedang berkelana mencari cinta. Memang tidak memesona seperti 'musafir cinta' yang bisikan pada Soniya dengan mesra, "Kita akan bertemu di persimpangan jalan."

"Assalamualaikum, Jhon." panggil akrab seorang perempuan bernama Ayla.

Tepat di mana ia merasa jones di negeri sendiri. Jhon, mulai berteman sepi. Hingga kini Ayla menyapanya, seperti habis jones terbitlah terang. "Wa'allaikumsalam," jawabnya.

"Kenapa kamu menyendiri, John? Sudah gak mau gabung sama kita lagi ya?"

"Bukan. Bukan seperti itu, Ay. Aku lagi ada banyak masalah," jelasnya singkat, menutupi maksud hatinya untuk menemukan filosofi jones.

"Masalah? Cerita ke aku, John."

Jhon merunduk. Tangannya menyembunyikan buku yang bertulis 'Catatan Harian Seorang Jones' pada sampulnya. Tak lupa ayat-ayat jones dirapal setiap detik, "Hidup segan, jones tak mau."

Walaupun hidup seribu tahun kalau jones apa gunanya?
Jhon mulai ragu, menjauhi Ayla. Maju jones, mundur jones. Jika benar hidup adalah jones, lalu kenapa perempuan terlihat menyedihkan saat diri ini jones? Jhon mulai bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan jones?

"Jhon, mau kemana!?" Ayla terlihat peduli sekali, tapi, Jhon terlalu nyaman dengan predikatnya sejak enam tahun lalu.

"Biarin aku sendiri dulu, Ay."

"Aku ngak boleh ikut?"

"Maksudmu? Jones bersamaku?"

"Apa kamu serius, Jhon, ingin jones sampai halal?"

Jhon hanya mengangguk. Yang dipikirnya sekarang hanya membiarkan semua tersirat rapih pada 'the secret jones' yang biasa dikenal 101 dosa jones.

Duhai wanita berkalung jones. Hati Jhon getir ketika jaraknya dengan Ayla semakin jauh; jones menggugat. Hingga tiba di bawah lentera jones, tanpa Ayla. Diingatnya pepatah lama, karena wanita hilang jones sebelanga.


You may like these posts