Menerjemah Lumrah
Sayang ... cepat sekali harus berhenti, sementara belum pernah memulainya. Terkubur sepi, tertinggal detik-detik, menumpuk jarak kian jauh tepat di mana semua terasa sia-sia.
Seseorang menangis di sana. Tiada yang memperhatikan; di tengah ramainya penari dansa pada jamuan makan malam. Binar matanya kian redup dan bibirnya senantiasa dikunci sejak awal. Tiada rintih atas bekas luka yang kini dialaminya lagi. "Rasanya sama," sedikit saja yang terucap.
Sudah lebih dari cukup, pikirnya singkat. Bahkan orang-orang hadir dan memasang topeng yang sama naifnya. Tanpa rasa lelah, dirinya tetap tersenyum dan enggan melepas lakon sebagai manusia. Tak lepaskan masalah di akhir acara.
