Pemuja Rahasia (2) Beri Ku Kesempatan
07.41 WIB
Aku ternyata tidak mengindahkan kontrak kuliah dengan Dosen Sastra ini, hingga pantaslah yang kuterima. Masih menggaung jelas ucap tegas beliau, "Mas, tolong lihat jamnya." Kukira ingin melihat jam tanganku. Jadi aku mendekat, "Ini, Pak" sembari kuperlihatkan. "Pilih Anda keluar atau saya yang pergi?" Baru kusadari saat duduk di anak tangga. Perkuliahan jam pertama hari ini sudah dimulai lebih dari lima menit yang lalu.
Kulihat jauh pada parkiran kampus, hingga semakin jelas kalau dua orang yang sedang berjalan mendekat adalah sahabatku. Dion tetap dengan tas gendong besar seperti bagasi mobil itu. Dan Reno--yakinlah ini tidak penting--sibuk merapihkan potongan rambutnya setiap kali melewati spion motor.
"Lo toh, Mal? Dari jauh gue kira tadi dosen," celetuk Reno.
"Amin."
"Itu karena perutmu gendut, Mal. Iya 'gak, Ren?" ledek Dion, mengajak Reno tertawa.
"Tapi enggak masalah," tanggapku. "Justru aku bangga. Setelah tahu kalau cowok sixpack lebih suka dengan cowok sixpack lainnya."
Reno diam sambil memegang perutnya. Matanya membelalak, lalu memandang ke arah perut Dion, "Gile lo, Mal. Maksud lo gue homo, gitu?"
Kami semua tertawa. Sungguh benar apa yang kutulis pada buku kenang-kenangan masa SMK dulu; sahabat adalah tanggung jawab yang manis. Alasan berbagi tawa dengan sahabat tidaklah rumit, cukup memahami salah bukan dengan salah memahami.
Reno lari ke kamar kecil. Dion bersembunyi di balik tiang-tiang tembok. Kadang memang mereka seperti anak kecil sementara ini bukanlah masanya.
"Eh, kamu lagi."
Mataku mencari sumber suara hingga jatuh tepat pada wanita yang berdiri di atas. "Wanita ini lagi," gumamku. Pantas Reno dan Dion lari seakan takut ditelan. Dia berjalan mendekati.
"Mana temanmu yang kemarin itu?"
"Reno ... " belum selesai aku bicara tapi langsung dipotongnya.
"Aku Aisah. Bilangin ya sama temenmu itu, Ren ... "
Kali ini aku yang memotong pembicaraannya, "Maksudnya itu ... " belum selesai jelaskan maksudku.
"Jadi maksudku itu, temenmu enggak boleh bertanya gitu pada wanita."
"Maksud ... " Susah sekali menjelaskan maksudku bahwa Reno adalah nama orang yang kemarin menyinggungnya, tapi perkataanku dipotong wanita ini lagi.
"Kamu ini .... Ngeselin banget kayak temenmu itu, Ren," Wanita ini ceriwis sekali. "Kemarin dia itu tanya, 'Bagi wanita, cinta itu apa tentang uang?'. Gitu, Ren.
"Tapi aku bukan Reno, Aisah."
"Apa? Tadi bilangnya Reno, terus sekarang bukan. Ish, enggak ada bedanya sama temenmu yang kemarin itu, ya?" Bicaranya tak kenal lelah, cocok sekali sebagai pemandu sorak, pikirku. "Dasar laki-laki! Bisanya bohong dan terus bohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang sudah-sudah!"
"Ya Tuhan ... tolong Baim," ujarku menirukan lelucon di grup facebook.
"Ish ...."
