Pemuja Rahasia - Pesona Pertama
Setelah lelah menjalani perkuliahan yang terkesan monoton, aku berniat menikmati secangkir kopi hitam di kantin kampus. Ternyata kantin lebih ramai daripada kelas saat perkuliahan berlangsung. Benar, kantin merupakan tempat yang lebih menarik memang, tidak ada dosen yang sibuk bercuap-cuap mengekang kreativitas, memaksa mahasiswanya membeli buku yang ditulisnya, atau duduk diam mendengar mahasiswa mempresentasikan makalah. Ah... sudahlah, mungkin ini alasanya kenapa mahasiswa lebih memilih untuk titip absen pada teman sekelas.
Rerintik turun perlahan. Mungkin jika kampusku berada di dataran yang lebih tinggi lagi dari permukaan laut, pasti salju yang akan muncul kali ini dan aku akan disibukkan dengan hawa dingin yang mencumbui tubuh. Jujur saja, aku akan merasakan nyeri pada tulang juga sendi-sendi saat kedinginan.
"Bu... kopi hitamnya satu," ujarku pada ibu kantin.
"Apa Jamal? Yang seperti biasa?" Bahkan ibu kantin tahu panggilan akrabku sedari SMK.
Aku mengangguk, "Iya, Bu."
Aku mengambil tempat di pojok, duduk di antara teman-teman yang sudah lama datang untuk memulai kebiasaan berdiskusi. Meski pun tidak formal, tapi kebiasaan ini sangatlah menarik di mana siapa saja bisa memberi sumbangsih pemikiran--hak suara bukan hanya milik dosen. Tak berapa lama kopi hangatku datang. Dan hampir saja aku tersedak saat menyeruput kopi. Bukan karena hangatnya yang terasa panas di bibir, tapi karena mengetahui yang sedang mereka diskusikan adalah cinta, yang benar saja.
"Wanita tidak miliki cinta," ujar Reno. "Mereka akan cenderung menunggu."
"Tapi memang seperti itu, bukan berarti wanita tidak miliki cinta," bantah Dion, pria dengan tinggi rambut satu senti.
"Jelas mereka tidak miliki cinta, tanya saja pada setiap pria di sini! Pasti setelah jatuh hati pada wanita pilihan, mereka akan 'dipaksa' untuk mengejar-ngejar dengan dalih kuat, ingin melihat perjuangan si pria sampai di mana, wanita akan menggantungkan jawaban... "
"... pada setiap angan-angan yang pria miliki," timpalku meski ucapan Reno belum selesai.
"Nah, itu. Lo setuju dengan gue kan, Mal?" desak Reno.
"Apa? Cinta? Sudahlah... apa tidak ada bahasan yang lebih menarik ketimbang cinta?"
Dion diam mendengar penjelasan dari Reno tadi. Mungkin dia pernah menunggu untuk jawaban wanita, persis ungkapan Reno. Atau apalah itu, aku tak tahu.
"Menurutmu, wanita itu punya cinta gak, Mal?" Dion memberanikan diri meski terlihat gugup dengan menyembunyikan pandangannya dari Reno. Dia memang mahasiswa yang dikenal cerdas, tapi bisa mendadak jadi pendiam seketika usai mendengar suara yang membentak.
"Sudahlah, Yon. Jangan mencari sekutu untuk sebuah pembenaran."
Reno tertawa dan aku hanya diam mencoba memahami pertanyaan Dion. "Gini, Yon... Ren. Apapun yang kita sebut dengan cinta, adalah benar. Misalnya saja ada yang bilang kalau cinta itu pasti memperjuangkan, membahagiakan, dan semacamnya. Jadi untuk apa kita membatasi cinta pada sebuah kata saja? Sementara kita tidak berbuat untuk cinta."
Mereka berdua tampak antusias. "Seperti kopi... aku pernah mendengar seperti itulah cinta. Kita tidak bisa langsung menikmati, tapi tunggulah sebentar, setelah ampasnya turun, baru akan terasa nikmat, kan?" Dion seakan tunjukkan masa lalunya di mana dia dipersilahkan si pujaan hati untuk menunggu sembari membuktikan rasa itu.
"Menurut gue ya, cinta itu emang seperti kopi. Punya taste yang berbeda," jelas Reno. "Tapi bukan untuk menunggu. Kalau emang wanita itu benar jatuh cinta juga, untuk apa saling menunggu coba?"
"Untuk taste-nya, Ren," ucapku datar.
"Kan, bener kataku." Dion sedikit tersenyum.
Hujan semakin deras saat seorang wanita memutuskan duduk di samping meja kami. Sontak saja Reno melepas kacamata, memandanginya, lalu berkata, "Sumpah, mimpi apa gue semalem ya sampai ada wanita mau duduk deket kita. Lo pada ngeliat juga kan?"
Jika ada pemilihan Raja Gombal, dari hari pertama pendaftaran pastilah Reno sudah dapat kupastikan menang. Mulut manisnya memang tidak hinggap pada setiap wanita, tapi terdengar sangatlah manis. Lain Reno, lain pula Dion yang memilih untuk sibuk dengan buku-bukunya di dalam tas. Perpustakaan keliling, demikian Reno menjuluki si kutu buku ini.
"Sini-sini," Reno meminta kami mendekat. "Gue tahu kalau kita bertiga jomblo. Tapi gue bakal seneng banget kalau wanita itu bisa jadian sama lo, Yon.
"Enggak-enggak. Aku sudah ada janji."
"Janji apa? Ah... lo mah gitu. Udah santai di sini aja ya lo pada?"
Reno lantas mendekati wanita itu. Dion masih disibukkan dengan bukunya, sementara aku punya alasan tersendiri untuk menikmati kopi yang hampir dingin.
Tak lama Reno mendekat, tampak pucat seperti habis melihat film horor pada malam jum'at.
"Kenapa, Ren?" selidikku.
"Diamlah." Memaksa untuk tetap diam.
Darr!
Kopiku terjatuh saat kucoba untuk meminumnya. Sementara tangan wanita tadi sudah lekat pada meja kami--pada bagian hadapan Reno. Aku terperanjat sambil memegang gelas yang tinggal ampas kopi basah saja. Pantas suara tadi seperti jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
Kopiku terjatuh saat kucoba untuk meminumnya. Sementara tangan wanita tadi sudah lekat pada meja kami--pada bagian hadapan Reno. Aku terperanjat sambil memegang gelas yang tinggal ampas kopi basah saja. Pantas suara tadi seperti jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
"Inget ya, Mas! Kalau cinta sekedar uang, mungkin Anda sudah ditukarkan dengan nasi bungkus sejak dulu!" tegas wanita yang sama-sama tidak kami tahu namanya. Lalu bergegas pergi menembus derasnya hujan, meninggalkan kami bertiga yang kini menjadi pusat perhatian.
"Cantik-cantik galak bener ya?" Dion membisik pada Reno.
Aku tersenyum tipis. Mungkin taste cinta tidak semata-mata hadir dari wanita yang anggun juga bertutur lembut. Gila! Wanita itu sungguh memesona.
