Referensi Hitam (3) Tanah Matahari Terbenam

Kisah yang sangat kental dengan romansa masa silam. Tapi bukan tentang tingginya menara katedral atau perang salib. Bukan pula tentang Socrates yang minum racun karena teguh pendiriannya.

Masih kugenggam buku saku hasil catatan tangan itu. Ternyata almarhumah Haysha Jazima cantik sekali. Terdapat fotonya sedang tersenyum manis pada lembar ke tujuh belas. Dikenakannya gamis serasi dengan jilbab berwarna biru langit.

Wajahnya berseri-seri, padahal pertengahan tahun 1943 belum ada aplikasi camera360, yakinku.

Tanah di mana matahari terbenam
tak lelah bersemayam
tempat cahaya berdiam;
temaram.

Haysha Jazima,
September, 1943.

Tertulis jelas di bawah fotonya. Seperti tanah itu digambarkan wajah ayunya yang berseri. Pasti cahaya itu berdiam di sana--pada wajahnya.

Genap seminggu sudah aku tidak mengunjungi kediaman Saafa Moallem. Aku menuju alun-alun Kota Shapir untuk menemui Arya--pria bermulut manis--setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu.

"Kamu tahu berapa lama aku menunggu?"

"Maafin aku, Arya, sudah buat kamu nunggu. Tapi nggak lama, kan?"

"Gak lama apanya? Dari SMA!"

"Ish ... bahas itu lagi."

Setibanya di depan Gang Labirin--seperti jalannya yang berkelok--Arya menarikku.

"Kenapa aku di sebelah kiri, Yak?"

"Ini seperti Ksatria Romawi. Wanita ada di sebelah kiri, tangan kanan yang kuat untuk menggenggam pedang untuk melindungi wanita."

"Pedang? Di tanganmu hanya ada pena!"

"Iya, pena untuk tanda tangan di buku nikah sama kamu! Cerewet!"

"Tapi kan itu pen spinning. Emang bisa?"

"Kan cerewet!"

Benar sudah pepatah yang mengatakan bahwa malu bertanya sesat dijalan. Karena sepanjang jalan Arya selalu bertanya, "Lewat sini, San?"

"Bukan, lewat sini."

Kulepaskan tanganku dan balik meraih tangannya. Kini aku yang memandu. karena aku yang tahu jalan menuju kediaman Saafa Moallem, bukan Arya.

"Apa-apaan kamu, San? Kalau dilihat orang gimana?"

"Apanya?"

"Ya ini ... masa' kamu yang di depan. Emangnya aku cowok apaan?"

Matahari sudah menapak naik, teriknya terasa sangat membakar suasana tengah hari. Beruntung bagi kami karena sudah tiba. Meski pada kenyataannya Arya lebih cerewet daripada aku, perjalanan kali ini terasa menyenangkan berkatnya.

"Assalamu'alaikum, Ibu ...."

"Wa'allaikumsalam. Masuklah, Nak," sahut dari dalam.

Tidak ada yang banyak berubah dari kediaman Saafa Moallem. Hanya tungku kayu yang seminggu lalu berdebu kini sudah dengan nyala api yang besar. Seperti api semangat beliau yang nampak kembali menggurat pada paras pemilik wajah oriental itu.

"Ini siapa, Nak?" tanya heran Saafa Moallem melihat Arya.

"Arya, Bu. Dia temanku dari SMA."

Arya menundukan kepala, seperti para prajurit pada bagindanya.

"Pria beruntung itu?"

"Bukan, Bu."

"Iya deng," ucap Arya datar.

Kutunjukkan buku catatan tangan pemberiannya sekaligus bertanya tentang puisi terakhir dari Haysha, Tanah Matahari Terbenam. Tentang wajah sahabatnya itu yang merah merona, sungguh memesona.

"Lihat sih," pinta Arya memaksa. "Cantiknya. Boleh milih dia, San? Soalnya cantikkan ... siapa ini, Haysha Jazima? Ha ... dari bulan september 1943?"

"Iya, kamu sama dia aja. Jadi jangan gangguin aku lagi ya, Yak?"

"Enggak ah Sania. Aku kan cuma bercanda. Ya, Bu?" ujarnya mencari pembelaan dari Saafa.

Wanita itu malah tertawa, lengkap dengan giginya yang ompong dimakan usia. "Kalian berdua cocok sekali."

"Jangan sama dia, Bu."

"Memang kami cocok dari SMA dulu, Bu. Tapi Sania cari-cari alasan supaya nggak cocok. Ya udah deh, aku nunggu sampai dia sadar kalau sebanyak apapun alasan tidak akan bisa mengganti keserasian."

"Bahas puisi sahabat Ibu aja. Nanti Arya kesurupan lagi, gak bisa berhenti ngomong kalau dilanjutin terus."

"Puisi itu?" Saafa Moallem masuk ke dalam kamarnya. "Ini potongan awalnya," diserakan selembar kertas kusam padaku.

Tanah Matahari Terbenam
Ingin kutanam
sekantung harap
hingga nanti kutuai
cecap manis dari lelah dijuang
pada tanah tenpat kita berjuang


"Dia--Haysha Jazima--seorang yang baik. Dia selalu percaya untuk tetap berbuat baik tanpa mengharapkan kebaikkan dari orang lain. Karena kesempatan terbesar dalam hidup adalah untuk berbuat baik sebanyak dan sebaik mungkin," Saafa Moallem bersembunyi dari tatapanku atas linang air mata.


You may like these posts