Referensi Hitam : Pemilik Indah Bintang (2)


Aku masih duduk saat seorang tua kebingungan karena kursi bus telah penuh. Dengan rendah hati kupersilahkan beliau berganti tempat denganku. Kakinya masih nampak menapak memang ... hanya saja aku akan lebih merasa bersalah jika nantinya beliau jatuh karena tidak sanggup menopang tubuh rentanya lebih lama lagi.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama, Bu."

Langit bagian Utara sudah dipenuhi awan hitam pekat. Sebentar lagi hujan, aku meracau.

"Kiri, Bang," pekikku pada sopir.

Tepat di alun-alun Kota Shapir. Masyarakat lebih akrab menyebutnya dengan Taman Jomblo. Pasti karena di taman ini hanya tersedia tempat duduk untuk menyendiri. Cukup untuk satu orang, tak lebih. Jikalau datang bersama teman pasti kami akan duduk berjauh-jauhan. Sedang aku masih ingat jelas iklan salah satu produk di televisi, "Jangan jauh-jauh ... nanti kangen."

Kumpulan catatan tangan Saafa Moallem bersama sahabatnya, Haysha Jazima (Alm), menemani kesendirianku. Tiada judul pada buku tebal ini. Hanya saja pada halaman pertama setelah sampul tertulis jelas 'Untuk Sahabatku yang Cantik'. Mereka berdua wanita, pasti salah satunya menuliskan untuk sahabatnya.

"Apa kau merasa kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap seseorang yang memecah konsentrasiku.
"Maksudmu?"

"Ya ... ini seperti mengulang jumpa kita yang pertama."

"Seperti itu kah? Di mana? Aku tidak mengingatnya sama sekali." Jika cermin memperlihatkan pantulan bayangku, pastilah akan nampak bodoh sekali aku saat ini.

"Di dalam mimpi indahku. Kau memang seperti ini, seperti bidadari namun tak bersayap."

"Ish .... Pergi sana, jangan ganggu!"

Bukan hatiku mendadak gusar mendengar seorang lelaki berkata seperti itu. Tapi, mengenalnya pun tidak. Harusnya dia lebih dulu belajar tentang etika sebelum menggoda.

Ingatanku mengarung jauh. Pada dua tahun lalu, di masa SMA, saat salah seorang sahabatku yang kebetulan lelaki menggoda. Lucu sekali, bagiku.

"Ayo kita main tebak-tebakkan, Sania." Arya namanya.

"Tebak-tebakkan?"

Kepalanya mengangguk, "Kalau lelaki sejati pasti yang dipegang adalah kata-katanya, kan? Kalau wanita apa yang dipegang, hayo?"

Aku mendadak kesal kala itu. Meski sudah lama kami saling mengenal, pertanyaan seperti itu tidaklahbisa dimaafkan. Tapi ... belum tanganku mendarat di wajahnya, dia lantas berkata:
"Jangan marah dulu. Lelaki yang dipegang adalah kata-katanya. Kalau wanita, pegang aja tangan Ayahnya sambil bilang, 'Saya terima nikahnya.' Iyakan?"

Arya nampak bahagia karenamenggodaku. Tawa dibawanya sampai menghilang dari pandanganku; di balik pintu kelas.

"Sania Mentari ...," sayup-sayup terdengar dari belakang sana.
Arya ..., batinku ragu.

"Jangan bengong. Nanti kamu kesurupan."

"Arya, kan?"

"Secepat itu melupakan orang yang sempat kamu cap sebagai 'musibah' saat SMA dulu? Kejam sekali." Arya tertawa malah. Perilaku aneh selalu saja ditunjukkannya, pantas hatiku meragu atas pernyataan sayang berulang kali.

"Kamu masih suka menggoda wanita, Yak?" selidikku cemburu.

Khawatir jika ternyata setiap wanita hanya digooda, lalu ditinggalkan bersama luka. Tega sekali lelaki.
"Kenapa sendirian? Diculik nanti, San."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!!!"

Arya masih berdiri di samping, binar matanya kaku sekali. Seperti patung dalam Museum Satrya Mandala; nampak seperti senjata laras panjang kuno yang tertahan karena pelatuknya ditarik.

"Tidak takut diculik?" diucapnya lagi.

"Tidak! Lagi pula, siapa juga yang mau culik aku?"

"Aku mau culik kamu. Bentar, ambil karung dulu."

"Emangnya aku kucing dikarungin?"

"Borgol kalau gitu. Tunggu, sebentar."

"Tega sekali kamu, Yak. Pasti pergelangan tanganku sakit nanti."

"Ya sudah, aku pakai yang lebih kecil, cincin."

You may like these posts