Rindu Rose (1)

Aku tak miliki keberanian menatapmu lebih lama dari jejak yang tertinggal pada pantai-lalu terhapus ombak. Tak pula seperti genangan air hujan yang tertinggal hingga subuh. Atau bekas air matamu yang mengering karena tangis semalam tadi.
Rose. Kau masih berdiri di ujung sana. Sementara aku memandangmu malu-malu.
Mula-mula, aku sibuk dengan duniaku. Hingga terasa jenuh serta kesal. Ingin akhiri sudah teka-teki kehidupan ... namun tak semudah apa yang dipikirkan.
Ya, tak mudah. Setelah jelas terlihat kantung matamu kelabu, lalu, kau ukir senyum manis pada parasmu.
Tapi seperti itukan seharusnya kita hidup, Rose? Cukup bagikan kebahagiaan. Tak khawatirkan kesedihan, karena ada Tuhan.

You may like these posts