Rose dan Cerita Rindu (8)

Aku masih di sini, duduk menepi di tengah sepi, usai siang tadi lelah kujalani hari. Bukan tentang menahan lapar sejak pagi. Tapi, ada sanksi setelah tatapku jatuh pada pandangan Rose yang lengkap dengan kedalamannya. Rindu dibuatnya kini.

"Rindu yang abu-abu," kata Andoz Short, sambil tertawa kecil. "Rindu ialah kamu; Rose ... yang kerap pindah ... sebelum tanpa pertanda."
Rama merindu; tak jumpa Shinta, "Rindu adalah abu-abu, kelam."

"Rindu tetap tak enak dalam sajian apapun karena jika tidak terbalas, lepas pun tidak," ujar Diana dengan suara parau. Berlari kecil, dia menjauh, "Rindu itu candu yang perih."

"Rindu tetap dingin." Cherry tetap bermain bola salju.

Fika masih menggenggam buku Pucuk Rindu saat ditanya perihal rindu, "Haruskah kemudian aku perlahan-lahan hilang dan terlupa, lagi!?"

"Rindu adalah tentang menimbun kenangan bertumpuk yang tak pernah mati," racau perempuan ceriwis berjuluk Nizam.

Jika pun ada kesempatan bertemu Rose kembali, takkan kubiar dipecundangi waktu tuk yang kedua.
Sebab Rose tak pernah tahu. 

Jadi ...,
Biar kutulis;
dan rindu tetap bersemayam pada hati-yang harus berhati-hati.

You may like these posts