Rose Melantun Simfoni Indah dalam Hatiku (9)
Kau masih setia--sejak pertama--menganggapku si ahli berdusta. Tak lama menjauh, melangkah gontai dengan wajah tertunduk, sedang sesalku terlambat cegah air matamu basahi ubin-ubin kayu.
"Tunggu, Rose!"
Pastilah kau tahu aku akan mencegahmu pergi dengan ucapan. Sesuai prediksimu sebelumnya, kan?
"Jangan beri alasan aku untuk bertahan!" Kau palingkan wajah hingga kulihat jelas bibirmu layu.
"Iya, hati-hati di jalan."
"Ish! Dasar, emang lelaki gak punya perasaan!"
"Pergilah!"
Rose ..., sedekah yang paling mudah serta murah adalah senyum, kan?
Aku hanya ingin sampaikan itu ...,
jadi, biarkan aku menjadi si fakir yang menanti senyummu.
Hati takkan mungkin berdusta; mungkin hanya lisan yang jarang terjaga.
