Setinggi Langit
Hujan di sore hari pada pertengahan bulan Mei membuat hati Nissa semakin membeku. Benar saja, setelah siang tadi di sekolah dia belum bisa menjawab pertanyaan dari guru tentang apa cita-citanya; dan masih memikirkan akan itu, kini hujan menambah keruh keadaan. Bukan karena dia tidak memiliki sebuah cita-cita, tapi dia masih ingat jelas sepenggal pembicaraan temannya, “…jangan bercita-cita jika tidak ingin kecewa.”
Nissa termenung di pinggir jendela kamarnya. Dia masih bertanya-tanya siap tidak seseorang kecewa dengan kegagalan dari tingginya harapan yang dimiliki. Tak lama ibunya datang menghampirinya yang sedari pulang sekolah tidak keluar dari kamar.
“Ada apa, sayang?” tanya ibu sembari membelai lembut rambut Nissa, “katakan pada ibu masalah apa yang kamu sembunyikan, sayang.”
“Dari mana ibu tahu kalau Nissa sedang ada masalah?” dipeluknya erat tubuh ibu yang duduk tepat di sampingnya.
“Itulah naluri seorang ibu, sayang. Kamu akan mengerti ketika sudah menjadi seorang ibu kelak.”
“Ibu …” ucap Nissa sambil melepaskan pelukkannya, “benarkah jika tidak ingin kecewa, maka jangan bercita-cita, bu?”
“Bukan seperti itu, sayang. Setiap orang punya sebuah cita-cita. Cita-cita itu sebuah harapan untuk masa depan. Dan kita akan memperjuangkannya agar harapan itu terwujud. Harapan itu adalah sebuah tujuan, sayang. Sekalipun gagal, kita akan berada pada batas kemampuan tertinggi, sayang. Tidak jatuh ke bawah.” Nasihat ibunya kepada Nissa, “Tapi, yang terpenting dari sebuah cita-cita adalah kita menyisipkannya dalam setiap doa dan kita memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, sayang. Kita wajib untuk berdoa dan berusaha. Biarlah Allah yang menentukan.”
Nissa memandang jauh kedalam mata ibunya. Merasakan seperti mendapat dukungan penuh. Sembari tersenyum Nissa berkata, “maukah ibu memilihkan sebuah cita-cita untukku?”
Ibunya hanya tersenyum. Lalu memandang ke luar jendela.
“Lihat hujan itu, sayang!” perintah ibunya Nissa.
“Kenapa bu?” Nissa bingung.
“Tidak peduli air hujan itu jatuh menjadi apa. Tapi setiap bulir air hujan telah menunaikan amanahnya untuk jatuh dan mencoba bermanfaat bagi setiap makhluk hidup. Karena apapun yang ada pada kehidupan ini adalah sebuah amanah. Dan setiap amanah akan diminta pertanggung jawabannya, sayang. Yang terpenting dari setiap amanah adalah Nissa mempunyai tanggung jawab. Jadi, apapun cita-cita Nissa, ibu mendukung, asalkan baik.”
“Jadi … Nissa harus punya tanggung jawab untuk sebuah cita-cita, bu?” tanyanya serius, “Bagaimana kalau Nissa ingin menjadi manusia yang bertanggungjawab, bu?”
“Iya … boleh sayang” didekapnya Nissa, “Nissa tak sendiri, ada ibu yang selalu mendukungmu, sayang.”
***
Ini masih jam enam pagi. Masih terlalu pagi untuk berada di sekolah yang masih sepi. Nissa duduk di dalam kelas, tak berapa lama sahabatnya datang. Ica sahabat karib Nissa sejak empat belas tahun silam. Dia mengenalnya sejak masa Posyandu.
“Nissa, maaf, aku kemarin tidak bisa membela kamu waktu teman-teman tertawa karena dirimu tidak menyebutkan cita-citamu” ucap Ica, matanya berkaca-kaca.
“Tidak mengapa, sayang” persis seperti ibunya yang sedang menenangkan Nissa. “Kemarin aku sudah membicarakannya kepada ibu tentang cita-cita itu.”
Setelah Nissa menjelaskan panjang lebar apa yang dikatakan oleh ibunya, Ica lalu memeluknya erat. Erat sekali seolah tiada jarak, lalu berbisik lembut tepat di telinga Nissa, “tetap semangat sayang demi cita-cita itu.”
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Jam mata pelajaran pertama siap dimulai. Begitu juga dengan teman-teman Nissa lainnya yang sudah memenuhi bangku masing-masing.
“Assalamuallaikum…” seru salah seorang guru dengan kumis tebal.
“Wa’allaikumsalam…” jawab semua murid bersamaan.
“Ini kesempatanmu, sayang” bisik Ica yang duduk bersebelahan dengan Nissa sembari menggenggam tangannya.
Nissa hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ica.
“Kamu!” guru itu menatap langsung ke arah Nissa, “sudah punya cita-cita hari ini?”
Terdengar suara riuh tawa teman-teman sekelasnya, kecuali Ica yang tersenyum memberikan semangat kepada Nissa.
“Sudah Pak!” lantang suara Nissa, “saya ingin menjadi manusia yang bertanggungjawab.”
Seketika itu juga seisi kelas menjadi sunyi. Hanya terdengar suara detik jam.
“Manusia yang bertanggungjawab?” tanya guru berkumis itu semakin heran, “bahkan temanmu saja ada yang ingin menjadi Dokter, Perdana Mentri, Guru, bahkan ada yang ingin menjadi Presiden.”
“Iya Pak! Saya ingin menjadi manusia yang bertanggungjawab. Sekarang ini banyak yang bercita-cita tinggi, meraih itu semua, tapi lupa akan sebuah tanggung jawab dari amanah yang mereka pikul. Karena tanggung jawab langsung berhubungan dengan Allah dan sesama manusia” jelas Nissa dari pelajaran ibunya kemarin sore.
Suasana kelas menjadi benar-benar sunyi. Guru itu kini tersenyum puas, tidaklah dia merasa sia-sia selama ini mengajar. Dari sekian banyak murid ternyata ada satu yang menakjubkan. Semoga cita-cita mulia itu ada di setiap manusia, menjadi manusia bertanggungjawab atas segala sesuatu yang menjadi amanah. Jangan sia-siakan waktu.
.jpg)