Surat Jones
Mendung bukan berarti hujan. Tapi, sepertinya hari ini hujan akan deras. Begitu yang Jhon pikirkan, hingga ia melangkah gontai, membaur di antara hangatnya suasana terminal kota yang ramai. Banyak penjaja dagangan, pun yang sibuk tawar menawar dari balik etalase.
"Yang haus, yang haus .... Minuman, Mas," seorang pedagang menawarkan.
"Enggak, Mas. Nggak haus kok."
"Ada banyak pilihan rasa kok, Mas." Pedangan itu terkesan memaksa.
"Benarkah, Mas?"
Pedagang itu mengangguk, "Mau yang rasa apa, Mas?"
"Kalau gitu, aku minta rasa yang dulu pernah ada."
"Dasar jones." Pedagang itu pergi.
Jhon masih percaya dalam hatinya bahwa jones pasti berlalu. "Negeri seribu jones, " gumamnya saat melihat 'Jones Bond 007' tertulis pada kaca belakang angkutan umum. Sempat tidak percaya, tapi dihelanya napas panjang setelah mengucek mata, sambil memegang dada dia berkata, "Jonesnya tuh di sini."
Hidup takkan jauh berbeda, diingatnya jelas pesan Raditya Jones dalam Manusia Setengah Jones, "Jones kan mendewasakanmu." Juga, ketika Mas Jones pergi, pasti untuk kembali.
Ada apa dengan jones? Bak 99 jones di langit Eropa. Dunia masuki abad kejonesan. Jhon yakin, jones bukan pengemis cinta.
