Gadis pengagum Hujan (2)
"Jangan!!!"
Malam itu langit dihujani cahaya, bukan pesta bunga api, tapi. Sejam yang lalu terjadi ledakan besar di persimpangan jalan, ada SPBU di sana, kurang-lebih seratus meter dari asrama tempat Gadis bersembunyi di salah-satu kamar. Tubuhnya gemetar, menyudut di sisi ruangan.
Asap membumbung tinggi, terlihat jelas dari jendela yang segera Gadis tutup gordennya. Pikirannya mengawang, terbang-melayang, sedang, tubuhnya terduduk lemas di samping dipan. Tuhan, gumamnya tak beraturan.
"Gadis! Kenapa, Dis!" Cemas suara Nadia terdengar dari balik pintu yang terkunci. "Buka, Dis, buka," lanjutnya. Pegangan pintu diputar.
"Nad ... tolong aku, tolong."
"Buka pintunya, Sayang."
Nadia langsung memeluk erat sahabatnya ketika pintu dibuka. "Kenapa?" selidiknya berlanjut.
"Suara itu, Sayang, suara tadi ...."
"Itu hanya suara POM yang meledak, tak lebih. Juga tidak ada korban di sana." Nadia berharap sahabatnya tenang mendengarnya. "Murni karena gerakan lempeng bumi, Sayang. Endogen. Anak Gunung Krakatau mungcul kepermukaan laut. Baru saja stasiun televisi memberitakannya," jelas mahasiswi jurusan geologi itu.
"Nadia ...." Sempat terlepas, Gadis memeluk erat sahabatnya, lagi. "Mamas, Nad. Aku kehilangan dia. Dia hilang di antara hujan dan gemuruh." Bak terjadi hujan lahar dingin. Air mata menyusur pipinya yang bersih.
Masih dalam peluk yang tak sehangat dekapan ibu itu. Nadia mengusap punggung Gadis, lalu berkata, 'Sudah, jangan sedih lagi, Sayang. Itu sudah terjadi lebih dari lima tahun lalu. Gadis sudah cerita ke aku, kan? Iya, kan?" Nadia memang tidak akan bisa menjadi sosok ibu bagi Gadis; gadis sebayanya, tapi, mereka sahabat.
"Ingatan itu tidak berkesudahan, Nad. Dia di hadapanku sebelumnya. Mengantarku sampai depan gerbang sekolah,
'Aku langsung ya, Dik?'
'Hujan, Mas. Nanti aja berangkatnya, berteduh di gapura aja, Dulu.'
'Bos bisa marah kalau aku terlambat, Dik. Termasuk dalam alasan apapun.'
'Ya udah. Nanti beri kabar ya kalau sudah sampai di tempat kerja?'
'Pasti. Aku tidak akan membuatmu khawatir.'
Dia memang tidak pernah membuatku khawatir, Nad. Tapi setelah ucapnya hari itu. Hujan memang tidak turun dengan lebat, hanya gerimis. Digoelnya sepeda peninggalan almarhum ayahnya itu. Dan, baru sejauh sepuluh meter mungkin, menghilang dari pandanganku pun belum sempat, Nad. Di antara hujan, ada gemuruh seperti ledakan, tak lama kemudian kilat menyambar tubuh Arjun, mamasku." Tangis gadis makin menjadi.
Nadia tidak bosan mendengar cerita dari sahabatnya, meski sudah kesekian kali. "Tapi, ini enggak bukan seperti itu, Dis. Kejadian kali ini tidak memakan korban, siapapun."
"Kecuali mengingatkanku pada mamas,' ucap Gadis datar saat menghapus air matanya yang tetap mengalir.
----bersambung----
